Tjokroaminoto, Sang Penyadar Islam Kebangsaan

12274352_950715501666575_3886911037870402857_n

Tjokroaminoto, Sang Penyadar Islam Kebangsaan

12274352_950715501666575_3886911037870402857_n

RumahPeneleh.or.id, Pekanbaru – HOS Tjokroaminoto, Sang Raja Tanpa Mahkota memang layak disebut pengobar semangat rakyat, di saat kaum dimana beliau lahir dan besar, kaum bangsawan menikmati hidup enak dalam budaya feodal, beliau memilih turun dan bergerak di tengah rakyat kelas bawah. Pak Tjokro menanggalkan gelar kebangsawanan, bergerak ke massa bawah, ke basis-basis rakyat yang mengalami penderitaan berkepanjangan di bawah penderitaan akibat kolonialisme. Saat yang sama dimana kaumnya sendiri, kaum ningrat memilih hidup nyaman dalam ketiak kolonial.

Sekelumit kisah tentang Tjokroaminoto itu dipaparkan Aji Dedi Mulawarman, penulis buku JANG OETAMA: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto pada diskusi di Universitas Islam Riau tadi siang (30/11). Diskusi sekaligus bedah buku itu bertempat di Auditorium Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

Lebih lanjut Aji Dedi menjabarkan, “Tjokroaminoto tidak hanya dilihat sebagai guru bangsa yang melahirkan pemimpin-pemimpin, tapi jauh dari itu Tjokro adalah sosok manusia yang mampu menggerakkan masyarakat menuju visi besar, impian untuk terbebas dari kolonial.”

“Perjuangan Pak Tjokro sendiri dilatarbelakangi kondisi politik negeri saat itu, keresahan beliau tentang sistem tanam paksa Belanda, juga penanaman modal asing besar-besaran yang menyengsarakan rakyat. Alih-alih atas nama penerapan politik etis, rakyat justru menderita karena kebijakan-kebijakan Belanda yang tak hanya memeras sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia kita.” tambah Aji Dedi.

Barangkali nasib kita saat itu tak ubahnya dengan kondisi sekarang, dimana campur tangan asing dimana-mana, yang justru menjadikan negeri seperti sapi perah. Kita seperti terbuai dengan kekayaan alam yang melimpah luar biasa, tapi belum dimanfaatkan secara optimal untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pada periode perjuangannya, Tjokroaminoto melakukan tahap-tahap penyadaran kepada rakyat saat itu:

  • Melakukan penyadaran kebangsaan
  • Melakukan penyadaran Keislaman
  • Melakukan penyadaran terhadap situasi yang salah

Penyadaran-penyadaran itu membuat rakyat tergerak dan berduyun-duyun mendukung perjuangan Sarekat Islam, menjadikannya organisasi politik terbesar hingga ditakuti Belanda. Fakta sejarah seperti itu patut kita teladani, dimana seorang figur yang notabene lahir dari keluarga ningrat, masih mau berjuang turun ke bawah, membangun kesadaran dalam semangat persaudaraan Islam, menyuarakan Islam bukan hanya sebagai doktrin agama belaka, tapi sebagai pembebas dari ketidakadilan.

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama HMI-MPO Korkom Universitas Islam Riau dan Yayasan Rumah Peneleh itu mendapat apresiasi yang sangat meriah dari peserta yang hadir siang itu. Aji Dedi menutup diskusi itu dengan seruan kepada segenap hadirin untuk sadar atas kondisi di negeri ini, dan berjuang bersama melawan kesalahan-kesalahan yang ada di negeri ini.[]

/ Berita

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish