Tawassulisme: Tawaran Baru Pendekatan Saintifik (?)

17571112_120300002815469802_2113396421_o

Tawassulisme: Tawaran Baru Pendekatan Saintifik (?)

RumahPeneleh.or.id, Malang – Kata Tawassul (Arab, التوسل) adalah kata asli bahasa Arab yang dapat dijumpai dalam Al-Quran, hadist, perkataan orang Arab dalam bentuk syair (puisi) maupun prosa. Maknanya adalah: mendekatkan diri (taqarrub) pada yang diinginkan dan berusaha mencapainya dengan semangat harapan.

Ibnul Asir berkata dalam An-Nihayah: Al-Wasil adalah orang yang berharap; kata Al-Wasilah adalah ibadah dan perantara; dan segala sesuatu yang dibuat untuk mencapai sesuatu atau mendekatkan diri. Bentuk jamaknya al-wasilah adalah wasail (وسائل).

Ibnu Faris dalam Mukjam al-Maqayis berkata: Al-Wasilah bermakna ingin dan berharap. Al-Wasil adalah orang yang berharap pada Allah. Dari sini dapat disimpulkan makna etimologis dari tawasul adalah menjadikan suatu jalan yang dapat mencapai tujuan atau mengharap sampai pada tujuan yang ingin dicapai.

Dalam istilah syariah, Tawassul adalah jalan atau sebab yang dijadikan oleh Allah untuk menuju kepadanya. Tawassul pada Nabi berarti memohon dikabulkannya doa kepada Allah dengan menyebut nama Nabi. Seperti: Ya Allah, ampunilah aku dengan kemuliaan Nabi Muhammad.

Beberapa hal tentang Tawassul dibahas dalam kajian Ngopi Kebudayaan Nusantara di Sekretariat Rumah Peneleh Malang, Senin (27/03). Kajian rutin setiap hari Senin tersebut berlangsung mulai Ba’da Isya’ hingga tengah malam.

Dr. (Cand). Yanuar, seorang akademisi asal Yogyakarta menjadi Peracik Kopi (pemateri) pada kajian yang mengambil tema Tawassulisme: Tawaran Baru Pendekatan Saintifik (?) malam itu.

“Di dalam akal ada hawa nafsu, dan akidah seseorang dapat dilihat saat dia dicela maupun dipuji. Karena itu Tawassul sendiri harus diniatkan pada kebaikan,” ungkap Yanuar.

Beberapa kesimpulan juga terlontar dari peserta yang hadir. Seperti pendapat Dr. A. Dedi Mulawarman yang menyatakan bahwa Tawassuul utamanya dalam doa haruslah untuk kebaikan semesta atau kebaikan bersama, bukan untuk kebahagiaan diri (nafs).

Karena menariknya kajian tersebut, beberapa peserta bahkan masih melanjutkan diskusi setelah acara diakhiri, hingga larut malam.[]

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *