Spirit 212: Hijrah Bermarwah Masjid atau Pasar ?

aji-dedi-mulawarman-bani-hasyim-tjokroaminoto-malang

Spirit 212: Hijrah Bermarwah Masjid atau Pasar ?

Oleh: A. Dedi Mulawarman

 

PENDAHULUAN

Membincangkan pasca 212 selalu saja renyah. Membincangkan 212 pasti akan melihat bagaimana secara sosiologis manusia Indonesia itu sendiri. Mengapa terjadi gerakan moral luar biasa atas kasus penistaan agama? Apa yang terjadi dengan manusia Indonesia? Bagi kalangan liberal, menggagas Manusia Indonesia Baru yang adaptif atas kecenderungan Manusia Universal tak dapat terelakkan. Sedangkan bagi para akademisi Muslim tahun 1990-an yang dikemudian hari banyak memengaruhi alam berpikir anak muda di jamannya yang saat ini menjadi para penggerak negeri, yang sedang gelisah seperti mereka dulu dan berdiskusi menerawang masa depan bangsa ini, bahwa sains teknologi berjiwa pemihakan pada kaum lemah serta arif lingkungan dalam koridor keagamaan adalah kunci. Tetapi mengapa, justru kita masih gamang atas budaya kita sendiri? Apakah benar bahwa budaya manusia Indonesia adalah pemalas, hipokrit, sinkretis, dan suka basa-basi “njawani”, dan seterusnya dan seterusnya? Saya merasa, ada yang salah terhadap stigma kebudayaan masyarakat kita sendiri, kebudayaan luhur bangsa ini yang sangat berbeda logika dan karakteristiknya. Tidakkah model “calling” ala Protestant Ethics-nya Max Weber yang kemudian mengejawantah menjadi “Greedy Moral” manusia modern adalah bagian dari progresifitas yang sangat instingtif darwinistik?

Ungkapan menarik Budayawan Nusantara, Emha Ainun Nadjib, bahwa kehidupan dunia sebelum mengarah pada kemuliaan, perlu dilalui lewat ritus kearifan simbol Maliboro (yang saat ini kita ketahui hanyalah tempat wisata tersibuk di Jogja). Malioboro merupakan simbolisasi kearifan religiositas Jawa, Dadio Wali Sing Umboro, jadilah wali yang mengembara, mengembara menuju kamulyan (kemuliaan). Bagi saya, Malioboro dapat menjadi kekuatan spirit pemimpin sebagai sosok manusia pengabdi Tuhan sekaligus rakyatnya, pengemban amanah kekuatan “penggerak kemanusiaan utama”. Sebagaimana diungkapkan QS 62:10:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia (fadhl) Allah dan selalu ingatlah kepada Allah supaya kamu beruntung”.

Sebaik-baik rejeki bukan hanya nikmat material, tetapi ultimasi atas fadhl, yaitu kemuliaan. Kemuliaan hanya ada pada kedaulatan manusia atas orang lain, kedaulatan ekonomi masyarakat di negeri sendiri, yang berdikari. Kemuliaan untuk kedaulatan seharusnya tidak bisa dikalahkan demi masifitas ukuran makro ekonomi liberal pro pasar. Pilihan campuran liberalisasi dan pemberdayaan memang membutuhkan kearifan dan konsistensi keberpihakan pilihan ekonomi. Bila kemuliaan memang penting, maka rakyat adalah pilihannya, dengan konsekuensi liberalisasi pasar perlu tereduksi pada skala tertentu.

Padahal, kalau mau direfleksikan lebih jauh, ngurus negeri, ngurus dunia kok cuma pasar, padahal pasar itu kata Gusti Rasul adalah sejelek-jelek tempat. Sekotor-kotor tempat dan sehina-hina tempat. Itu lo katanya tempatnya para setan bercengkrama menegosiasikan kejahatan, pokoknya segala kejahatan kumpul jadi satu merumuskan agenda keduniaan penuh kejahilan kebohongan kemaksiatan, wis pokoke.Padahal ada tempat lain yang kata Gusti Rasul, sebaik-baik dan seindah-indah, sewangi dan harumnya panggonan, tempat itu ya Masjid. Ya jangan mikir kalau membuat indah masjid itu kemudian dibangun dengan penuh pernik emas permata, keindahan masjid itu bukan di ruang fisik, saya kira, tetapi kehadiran masjid di dalam sukma setiap insan di negeri ini yang penuh tebaran cahaya maha cahayalah substansi keindahan itu berada.

Ndak ngerti po, nek ndak ngurusi sukma masjid kuwi, negeri ini akan jadi tempat para setan dan kebusukan dan kejahatan dan apapunlah. Yang pasti, akan menjungkirbalikkan keindahan semesta dan menghilangkan sukma masjid menjadi pinggiran dan marjinal hanya untuk orang-orang tua kurus jelek pandir dan kumuh berkumpul menjelang dan merapatkan kematian saja…

MANUSIA INDONESIA ITU SUKA MASJID ATAU PASAR?

Bicara mengenai Masjid dan Pasar, saya lebih baik mendetilkannya. Ya, Masjid dan Pasar adalah dua “dunia” yang menjadi bagian tema-tema abadi lain dari prioritas aktivitas setiap Muslim. Tema-tema abadi seperti Keadilan, Anti-Rasisme di seluruh lini, Ketakwaan, Ibadah-ibadah Mahdah, dan lainnya selalu didengungkan, untuk diresapi dan diaplikasikan secara “kaffah” (menyeluruh, total, holistik) setiap manusia yang mengatakan dirinya Muslim, Orang Islam.Mengapa tema-tema abadi tersebut penting dan bahkan banyak diulang-ulang dalam Qur’an, Hadits maupun Ushwah Rasul? Ya, karena tema-tema abadi itulah ciri khas Islam. Ironisnya, tema-tema abadi itupun sekaligus banyak terlupakan, atau kalau tak terlupakan ya terkalahkan dengan tema-tema duniawi rekaan dan karya-karya kemanusiaan yang lebih menggiurkan, seperti pasar saham, demokrasi, liberalisasi, hak asasi manusia, hak paten, kapital, income, kesetaraan gender, interest/bunga, dan lainnya.

Masjid dan Pasar salah satunya yang kadang tidak dibicarakan sepaket, tetapi parsial, bahkan pembicaraan sepaket atau bahasa “kerennya” itu sinergi oposisi biner banyak terlupakan atau terkalahkan oleh pemisahan ekstrim masjid dan pasar, maupun yang hanya sekedar haditsnya dibaca, dihafal, dan diletakkan di diskusi kitab-kitab ibadah mahdah. Padahal, Masjid dan Pasar adalah satu kesatuan yang tak dapat dilepaskan dari konteks di mana Islam berkembang. Bentuk Sinergi Oposisi Biner yang (kadang) terlupakan dan lebih suka dibahas dalam logika oposisi biner. Ketika membahas masjid ya masjid saja, ketika membahas pasar ya pasar saja. Ketika membahas ibadah shalat dan masjid sebagai tempat sujud/shalat tidak lupa membahas bahwa pasar adalah tempat terburuk dan paling dibenci Allah. Tetapi ketika membahas pasar dalam sistem ekonomi Islam, sangat sulit, jarang atau bahkan sering terlupakan bahwa pasar adalah tempat yang paling buruk dan paling dibenci Allah, sedangkan masjid (baik itu makna hakiki maupun majazi) sendiri lepas dari pembahasan ekonomi Islam.

Saya melihat ada semacam keterlepasan bawah sadar (kalau tidak mau dikatakan sekularisasi berpikir) ketika mendiskusikan pasar dengan memberi porsi minimal bahkan reduksi total atas konsep masjid. Entah memang keterlepasan itu bawah sadar rasionalitas yang telah “in depth” karena kebiasaan ekonom, ahli keuangan atau akuntan membahas ekonomi model “Barat” yang hanya bersifat orientasi keuntungan, kapital, human orientation, self interest, rasional, empiris, dan urusan dunia saja, sedangkan urusan masjid adalah urusan di rumah, agama pribadi, tidak berhubungan dengan logika ekonomi, bisnis maupun akuntansi di manapun. Kalaupun mau ngomong Ekonomi Islam, ya yang dibicarakan itu yang konkret, rasional, empiris dan terkait langsung dengan logika ekonomi, yaitu riba, just that. Karena pula riba adalah pusat dari permasalahan ekonomi Barat dan dengan demikian urusan masjid, karena tidak berkoneksi langsung dengan uang, ya tidak perlu dibahas.

Saya melihat keterpisahan masjid dan pasar tidak bisa berlangsung terus menerus. Masjid dan pasar adalah dua tema abadi yang sinergis tak terpisahkan. Lihat saja, Rasulullah ketika membangun Masjid Nabawi di Madinah, setelah itu membangun pasar di dekat Masjid Nabawi. Ketika Umar memasuki kota baru yang telah diislamkan, maka yang dibangun pertama adalah Masjid, baru kemudian Pasar. Berdasarkan kenyataan historis maupun kultural Islam dapat pula saya katakan tak berlebihan sebuah refleksi kalimat “Di mana ada Pasar, di sana pasti ada Masjid, di mana ada Masjid di sana pasti ada Pasar. Sampai kinipun, misalnya kita ke Masjid Nabawi di Madinah atau bahkan Masjidil Haram di Mekkah, di sekitarnya bertebaran berbagai aktivitas pasar, baik tradisional maupun modern. Tak perlu jauh-jauh, simbol Keraton-keraton dan kota-kota di Nusantara, terutama di Jawa, selalu terdapat simbol-simbol alun-alun sebagai pusat, masjid, pasar atau pusat aktivitas ekonomi, dan keraton atau pusat kekuasaan. Kota-kota dan keraton atau kesultanan Jawa memang sangat dipengaruhi oleh Islam.

Pertanyaan lugu saya, apakah saat ini kita akan membangun masjid dahulu baru kemudian pasar? Ekonomi kita saat ini selalu membangun Mall terlebih dahulu, dengan lahan dan bangunan yang beribu-ribu meter persegi, sedangkan tempat ibadahnya sepetak, di lantai bawah sempit, dan lagi dibangun setelah dibangun WC terlebih dahulu. Mudahnya, kalau dulu ummat Muslim membangun Masjid besar dan pertama kali, baru kemudian pasar, sekarang manusia modern membangun Pasar besar dan pertama kali, baru kemudian musholla kecil di sebelah WC. Bukan hanya di mall, saja rupanya, di salah satu kampus besar di negeri inipun, penyelesaian pembangunan masjid universitas terkalahkan dengan penyelesaian gedung-gedung baru lainnya, bukan hanya gedung fakultas. Sepertinya memang terjadi pergeseran yang signifikan atas makna Masjid dan Pasar.

Saya juga berpikir meski ini tidak pas juga, apakah Pasar Saham saat ini, atau misalnya Pasar Syariah atau Efek Syariah di negeri ini dibangun dengan logika seperti Mall juga atau seperti logika Rasulullah ketika masuk ke Madinah pertama kali? Bisa saja perdebatan merujuk pada arah “darurat”, Efek Syariah dibangun di bawah IDX di Jakarta. Maka dari itu, daripada mendiskusikan yang sangat “technical and debatable“, apalagi perdebatan “material terms in Islam“, saya akan lebih jauh masuk dalam “symbolic terms in Islam“. Salah satu yang paling penting adalah simbol yang dihadirkan Nabi Muhammad SAW. mengenai sinergi oposisi biner masjid dan pasar lewat hadits-haditsnya.Abu Hurairah menyampaikan Sabda Rasulullah Muhammad SAW:“Tempat yang paling dicintai Allah adalah Masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah Pasar-pasarnya.” (HR Muslim).

Hadits Riwayat Muslim mengenai Masjid dan Pasar merupakan salah satu “icon” pentingnya tema tersebut. Hadits Riwayat Muslim lain, misalnya pada saat terjadi dialog antara Rasulullah Muhammad SAW dan Malaikat Jibril AS. Sang Rasul, Muhammad SAW., di suatu waktu bertanya kepada Malaikat Jibril AS.:”Wahai Jibril, tempat manakah yang disenangi oleh Allah?” Mendengar pertanyaan itu kemudian Jibril AS. menjawab: “Masjid-masjid, dan yang paling disenangi adalah orang yang pertama masuk dan terakhir keluar meninggalkannya.” Sang Rasul, Muhammad SAW kembali bertanya: Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?” Jibril AS menjawab: “Pasar-pasar dan orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya.”

Berdasarkan pemikiran dan makna Ijmal (umum dan logis), dialog antara Muhammad SAW dan Jibril AS di atas menyiratkan dua hal, yaitu Tempat dan Manusia. Pertama, berkenaan dengan tempat paling dicintai Allah adalah Masjid, sedangkan yang paling dibenci Allah adalah Pasar. Kedua, Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang berlama-lama beribadah di Masjid dan mengurangi semaksimal mungkin untuk beraktivitas keduniawian di Pasar. Sebaliknya orang yang dibenci Allah adalah manusia yang berlama-lama di Pasar dan tidak kerasan di Masjid.

Sebenarnya, kita dapat melakukan Tahlilul Lafdzi (analisis kata per kata) maupun Tahlilul Tarkib (analisis gramatikal) atas Hadits tersebut. Saya mencoba melihat dua padanan atas kata (1) masjid-pasar; dan (2) cinta-benci. Pertama, padanan kata masjid dan pasar dalam Hadits tersebut ditulis dalam bentuk jamak, masaajidu (masjid-masjid) dan aswaaqu(pasar-pasar). Kedua, padanan kata cinta-benci ditulis dalam bentuk kaidah isim tafdhil, kata benda yang mempunyai arti sangat/paling/lebih, yaitu ahabbu (paling dicintai) dan abghodu(paling dibenci).

Dua padanan kata masjid-pasar dan cinta-benci itu dirangkai dalam bentuk kalimat masjid yang paling dicintai, sedangkan pasar yang paling dibenci. Setiap masjid yang ada di seluruh pelosok negeri dan bahkan saat ini di seluruh bumi, adalah tempat paling dicintai Allah. Kata cinta yang digunakan dalam hadits bukan cinta sembarangan, tetapi berasal dari runtutan kata yang mengikuti kaidah fi’il madi (kata kerja lampau) – fi’il mudhori (kata kerja saat ini) – masdar (kata benda), yaitu: habba – yuhibbu – mahabba. Bahkan penggunaan masdar untuk menunjukkan cinta paling puncak tidak menggunakan kata lain, tetapi menggunakan kata Mahabbatullah (Cinta kepada Allah).

Jadi, kata cinta paling puncak (ahabbu) dari Allah untuk tempat paling baik di seantero bumi, hanyalah Masjid. Sebaliknya, tempat yang paling dibenci (abghodu) oleh Allah adalah Pasar. Bahkan, kalimat ahabbu dan abghodu, keduanya merupakan bentuk kata yang berlaku terus menerus tak putus. Artinya, “ahabbul bilaadi Ilallahi masaajiduhaa” dapat diartikan sebagai tempat-tempat di negeri yang akan selalu dicintai Allah tanpa putus dan tak akan pernah tidak dicintai sampai kapanpun adalah Masjid. Sedangkan “abghodul bilaadi Ilallahi aswaaquhaa” dapat diartikan sebagai tempat-tempat di negeri yang akan selalu dibenci Allah tanpa putus dan tak akan pernah tidak dibenci sampai kapanpun adalah Pasar. Katakanlah Masjid berada di ekstrim ujung yang paling dan selalu dicintai Allah selamanya sedangkan Pasar berada ekstrim ujung lainnya yang dibenci Allah selamanya yaitu Pasar.

PASAR —–(ekstrim kebencian)—– ALLAH —–(esktrim kecintaan)—– MASJID

PASAR —–(benci terus menerus)—– ALLAH —–(cinta terus menerus)—– MASJID

PASAR —–(benci selamanya)—– ALLAH —–(cinta selamanya)—– MASJID

Mengapa Allah begitu mencintai Masjid, mencintainya terus menerus tanpa jeda dan selamanya? Imam Nawawi menjelaskan, karena masjid merupakan rumah ketaatan dan pondasi dasarnya adalah ketakwaan. Bahkan Imam Qurtubi lebih detil menjelaskan, karena masjid merupakan tempat yang dikhususkan untuk beribadah, berzikir, berkumpulnya orang-orang Mukmin, penampakan simbol-simbol agama, dan hadirnya para Malaikat.

Sebaliknya, Mengapa Allah begitu membenci Pasar tanpa henti tanpa jeda terus menerus dan selamanya? Imam Nawawi menjelaskan karena pasar merupakan tempat berbuat kecurangan, tipu daya, riba, sumpah palsu, pengingkaran janji, dan penghalangan dari zikir kepada Allah serta lain sebagainya. Dijlentrehkan lebih jauh oleh Imam Kurtubi, karena pasar merupakan tempat yang khusus untuk mengejar duniawi dan berbagai kesenangan manusia, yang menghalang-halangi mereka dari zikir kepada Allah, dan karena merupakan tempat sumpah palsu, sekaligus menjadi medan pertempuran bagi syaitan, di sana pula syaitan menjunjung tinggi panjinya. Cerita lama dari Nasruddin sepertinya menarik untuk dikutip di sini:

Suatu pagi mullah Nasruddin sedang berjalan-jalan di pasar ketika ia melihat orang-orang berkerumun dengan gairah mengelilingi seorang pedagang yang sedang menawarkan seekor burung. “Sepuluh dinar”, Dua puluh”, “Lima puluh”. Orang-orang itu bersahutan. Dengan keheranan sang mullah ikut merubung. Akhirnya ia tahu bahwa hari itu sebangsa unggas mempunyai pasaran yang baik. Buru-buru dia pulang dan kembali dengan seekor kalkun yang gemuk untuk dijual. Orang-orang memang mengerumuninya, tetapi tawaran tidak ada yang lebih dari lima dinar. Walhasil ia berontak: Unggas sebesar ini hanya lima dinar, uh”. Seorang yang berkerumun menyahut cepat, “Iya, karena itulah harganya.” Mullah memprotes, “Tetapi kalian baru saja membeli seekor unggas dengan harga lima puluh dinar.” Jawab yang hadir, “Betul itu karena unggas itu seekor beo pintar bicara”. Mullah pun terdiam. Tetapi sebentar lagi ia angkat bicara, sambil menunjuk pada unggasnya yang tenang dengan bulu-bulu halus dan mata membelalak, “Betul. Unggas saya memang bukan sebangsa tukang ngomong, tetapi Pemikir.” Dan diapun nyelonong pergi.

Mengapa sampai Nasruddin bersikap skeptis seperti di atas? Skeptisisme beliau terjadi karena kecenderungan “masyarakat yang telah mapan dan hidup di zona aman” hanya melihat mekanisme pasar sebagai mekanisme technical, boleh bebas asal tidak menabrak masalah moral dapat dibenarkan. Sindiran itu mungkin perlu dielaborasi lebih lanjut sebagaimana saya jelaskan di atas, telah sampai pada pertanyaan mengenai mengapa Allah sedemikian mencintai Masjid dan sebaliknya sedemikian membenci Pasar. Kuntowijoyo[1] memahami Hadits Nabi SAW tersebut sebagai bentuk dialektika dan bukan semata-mata hitam putih yang saling menegasikan. Tetapi lebih dari itu, dialektika nanti akan kita lihat di bawah, sarat dengan “ruh” substantif daripada hanya teknis seperti pembeli-penjual di pasar unggas berdasarkan cerita atas.

Ya, Rasulullah memang menegaskan di banyak Hadits mengenai pentingnya pasar, perdagangan, dan interaksi penjual dan pembeli, dan lain sebagainya. Penjelasan mengenai baiknya pasar, interaksi ekonomi dan semua yang berhubungan dengannya itulah yang banyak didiskusikan di ranah Ekonomi Islam saat ini. Melakukan aktivitas di pasar itu boleh dan “baik” dengan syarat jujur, tidak mengurangi timbangan, tidak menjual barang yang dilarang, tidak boleh melakukan tipu daya, tidak boleh melakukan sumpah palsu, tidak menimbun, tidak memonopoli, dan semua aspek etis maupun tema-tema kebaikan lainnya. Tetapi saya melihat diskusi seperti itu kok jadinya sangat teknis dan rasional, tidak masuk “ruh” sebenarnya, yaitu Adagium Besar “Masjid”.

Rasulullah jelas sekali sebenarnya bukan hanya melakukan oposisi biner atas Masjid dan Pasar, tetapi juga nanti akan kita lihat bahwa apa yang dilakukan beliau adalah sinergi oposisi biner dengan meletakkan “ruh” masjid sebagai payungnya. Kuntowijoyo mengatakan hal itu sebagai bentuk pertemuan sistem budaya universal dan serba khusus, sebuah lingkaran makna yang akan mempersatukan dengan menunjuk kekuatan kedua seimbol tersebut. Masjid, bagi Kuntowijoyo adalah lingkaran makna yang akan mempersatukan konfigurasi budaya Umat Islam, mempersatukan aspek-aspek budaya menjadi satuan yang koheren. Penjelasan detilnya:

“Budaya sebagai, sebuah sistem ide dan nilai yang dikaitkan bersama secara logis, haruslah mempunya mekanisme integrasi yang membuat baik keseluruhan maupun aspek-aspeknya menjadi satuan yang integral. Jika masjid ditunjuk sebagai sebuah tema yang mempersatukan, maksudnya tentu saja Nabi ingin dengan jelas mengatakan dengan lambang yang konkret, eksistensial, dan sekaligus struktural, tidak hanya esensi dan abstraksi. Demikian juga lambang pasar yang empiris, dan menunjuk pada kekuatan sejarah yang nyata, yang menggerakkan dunia modern”.

Kuntowijoyo seakan ingin menyelami ketegasan universalitas itu ada pada Masjid dan sebagai pusat budaya, sedangkan Pasar sebagai realitas modern saat ini yang selalu berubah tidak boleh menjadi sentral dan menggerus nilai-nilai utama Islam yang terefleksi dalam bentuk Masjid. Masjid bukan hanya esensi dan abstraksi, tetapi eksistensial, konkret sekaligus struktural, jelas sekali tidak kemudian seperti yang dilakukan oleh Ekonomi Islam saat ini.

Sayangnya, Ekonomi Islam melihat nilai-nilai logis pasar dari “Barat” menjadi ruang penting sedangkan nilai-nilai etis yang ada di masjid selama itu sama dengan logika kemanusiaan dan empiris, maka konsep pasar menjadi panglima. Pasar adalah panglima, sedangkan nilai-nilai kebaikan mengikuti, bahkan selama logika kebaikan universal itu diterima dan “dapat dicocokkan” dengan Islam maka menjadi benarlah Pasar. Artinya pula Pasar sebagai simbol menjadi Payung, sedangkan Masjid sebagai simbol mengikuti “kuasa” Pasar. Pasar, lanjut Kuntowijoyo:

“…adalah kekuatan revolusioner dan proses pemasaran masyarakat mempunyai akibat yang jauh bagi perkembangan pasar. Pasar menuntut perilaku rasional dalam menentukan pilihan-pilihan. Dari rasionalisasi yang dimulai oleh pasar ini terjadilah rasionalisasi dalam nilai-nilai. Keraguan terjadi atas perilaku yang berdasar nilai… menjadi pemujaan kepada perilaku yang berdasar perhitungan ekonomis… Dalam kehidupan beragama hal ini dapat nampak dalam cara orang menentukan sifat keagamaan. Meskipun orang barangkali tidak akan mudah berpindah agama atau mengalami deconversi atau reconversi, tetapi mode of religiosity dapat terpengaruh. Cara beragama disesuaikan dengan situasi pasar juga. Di sinilah munculnya ide-ide sekularisasi yang memisahkan agama dari struktur sosial… yang menempatkan agama “di tempatnya” sendiri. Agama dapat merupakan komoditi konsumen dan lembaga-lembaga dakwah sebagai agen-agen pemasaran. Dalam keadaan ini,… agama yang semula disebarkan dengan cara otoritatif sekarang terpaksa harus dipasarkan.”

Reduksi Pasar dari peran “ruh” Masjid jelas sekali sebenarnya dari konsep Pasar yang “dirasionalkan” dalam buku-buku daras, artikel dan riset-riset di ranah Ekonomi Islam. Contoh paling baik adalah buku Ekonomi Islam yang diterbitkan oleh salah satu perguruan tinggi di Indonesia dan banyak dipakai secara nasional. Pasar dalam buku itu disebutkan sebagai:

“…sebuah mekanisme pertukaran barang dan jasa yang alamiah dan telah berlangsung sejak peradaban awal manusia. Islam menempatkan pasar pada kedudukan yang penting dalam perekonomian. Praktik ekonomi pada masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin menunjukkan adanya peranan pasar yang besar. Rasulullah sangat menghargai harga yang dibentuk oleh pasar sebagai harga yang adil. Beliau menolak adanya suatu price intervention seandainya perubahan harga terjadi karena mekanisme pasar yang wajar. Namun pasar di sini mengharuskan adanya moralitas, antara lain, persaingan yang sehat (fair play), kejujuran (honesty), keterbukaan (transparancy) dan keadilan (justice). Jika nilai-nilai ini telah ditegakkan, maka tidak ada alasan untuk menolak harga pasar.”

Rasionalisasi Islam lewat Ekonomi dan Bisnis tidak hanya sampai di situ saja, bahkan seluruh logika Ekonomi Islam telah digiring pada bagaimana memotret manusia dalam kerangka pasar “yang diislamkan” atau katakanlah Islamisasi Ilmu. Islamisasi Ilmu Pasar mengedepankan apa itu pasar yang diperbolehkan dalam Islam, dengan menggunakan term-term Barat, yang dianggap sebagai term Islam Klasik, seperti pasar bebas tanpa intervensi asal adil, sehat, jujur dan terbuka. Pasar adalah tempat bertemunya permintaan dan penawaran, keseimbangan pasar, serta ujungnya adalah pasar boleh bebas, dan diperbolehkannya pula ada mekanisme pengawasan atas pasar (Al-Hisbah).

Menjadi logis ketika negeri kita, Indonesia misalnya, atas cara bekerjanya logika pasar, seperti ditegaskan Kuntowijoyo kemudian melihat adanya proses industrialisasi, liberalisasi, urbanisasi, dan masyarakat organisasional lainnya sebagai gejala yang memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung serta logis dengan pembentukan “masyarakat pasar”. Baginya, di sinilah proses gradasi sekularisasi (wilayah yang dibebaskan dari “ruh” religi) masyarakat Indonesia (“lokal”) terjadi, mulai dari yang paling tinggi tingkatannya yaitu masyarakat perkotaan/industrial sampai yang paling rendah yaitu masyarakat perdesaaan/agraris. Mengapa masyarakat perkotaan/industrial paling sekular? Kuntowijoyo melanjutkan:

“Oleh karena industrialisasi adalah penerapan secara rasional ilmu pengetahuan dalam produksi, maka proses rasionalisasi kemudian juga menurunkan status agama sebagai petunjuk yang benar tentang realitas. Dengan adanya realitas baru buatan manusia yang artifisial, rujukan agama yang selalu menunjuk pada realitas pertama dan kedua, yaitu Tuhan dan alam semesta, tidak lagi menjadi daya panggil yang kuat”.

Saya dapat menerjemahkan lebih lugas apa yang dikatakan oleh Kuntowijoyo di atas bahwa proses sekularisasi paling tinggi derajatnya adalah di dunia yang dekat dengan “Pasar”, yaitu akuntansi. Mengapa akuntansi? Ya, karena akuntansi adalah perangkat ilmu paling rasional, matematis-numerik, dan terstruktur yang menjadi tulang punggung organisasi bisnis yang nantinya mendorong kapitalisme ekonomi untuk menghitung “uang” dan proses transaksi bisnis yang terekam dalam laporan keuangan. Hal ini menjadi benar bila kita merujuk pada statementMax Weber[2]:

“Organisasi-organisasi rasional modern dari aktivitas kapitalistik tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya dua faktor penting, yaitu pemisahan bisnis dari pemilik yang memang menjadi bentuk perusahaan modern, dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan tata buku yang rasional”

Logika berpikir ketat, rasional, matematis-numerik, dan terstruktur itulah akuntansi telah mendorong masyarakat bisnis dan termasuk di dalamnya akademisi masuk dalam logika Darwinisme Sosial bernama “Growth” atau “Pertumbuhan” sehingga mengarahkan, yang dikatakan Kuntowijoyo:

“…organisasi-organisasi sosial cenderung menjadi birokrasi dengan penerapan kebijakan yang memerlukan ketepatan, kecepatan, pengetahuan, kelestarian, subordinasi yang keras, dan kepastian dengan sebanyak mungkin mengurangi harga material dan personal – pendek kata suatu model administrasi birokratis. Sistem big-organization akan menyingkirkan jauh-jauh urusan cinta, dendam, dan segalanya yang bersifat personal, irasional, dan elemen-elemen emosional yang lain… Ciri yang paling utama masyarakat pasar tentu saja ialah Kapitalisme… Dengan kata lain, sesuai dengan semboyan masa kini, manusia modern yang demikian tidak dapat menjadi manusia yang utuh.”

Kuntowijoyo sendiri juga telah mencoba menawarkan “ruh” Masjid harusnya masuk dalam ruang Pasar melalui pendekatan bagaimana dialektika Rasulullah dilakukan untuk merubah situasi kapitalistik Mekkah, lewat penghancuran “berhala-berhala” yang dipertuhankan sebagai pengaman dan pendamai mekanisme pasar masyarakat Arab waktu itu. Menurutnya, masyarakat ber-ruh “Masjid” adalah antitesis dari kesatuan kekuatan masyarakat ber-ruh “Pasar”. Rasulullah meyakini bahwa penyebab kemusrikan waktu itu adalah “ruh” pasar yang membentuk rasionalisasi masyarakat Arab.

Stigma rasionalisasinya adalah “tuhan-tuhan” pengaman dan pendamai kejiwaan seluruh mekanisme pasar yang ter-“materialisasi” dan ter-“rasionalisasi” dalam bentuk berhala. Satu-satunya cara untuk menumbangkan kekuatan pasar, yang dihancurkan adalah perekat pasar itu sendiri, pusat materialisme dan rasionalisme masyarakat Arab, yaitu “berhala”. Bila berhala utama adalah pasar, dan disimbolkan oleh Kuntowijoyo sebagai Teori Ekonomi Kapitalis atau Ekonomi Liberal saat ini. Turunan-turunan berhala konkrit waktu itu adalah Suku Arab pro Pasar, di era kita saat ini berbentuk Multinational Companies. Turunan lainnya saat itu adalah kepala suku Arab, sekarang ini berubah wujud menjadi para bankir dan pengusaha besar. Untuk lengkapnya Kuntowijoyomenjelaskan di bawah ini:

“Tidak ragu lagi saya yakin bahwa Nabi melihat penyebab kemusyrikan pada waktu itu ialah kekuatan pasar. Ketika pada akhirnya kekuatan masjid berhadapan dengan kekuatan pasar, maka titik strategisnya ialah penghancuran berhala yang menjadi perwujudan konseptual bagi kepentingan pasar dan menjadi alat legitimasi kepentingan ekonomi… Dengan berpikir dialektik kita akan menjadi dinamis, bukankah amar ma’ruf nahi munkar adalah suatu ajaran filsafat perbuatan yang dialektik dan revolusioner… Suku-suku Arab sekarang ini telah menjelma menjadi big corporation dan multinational corporation, kepala-kepala suku adalah bankir-bankir dan pengusaha besar, dan berhala-berhala adalah teori ekonomi kapitalis.”

Bila kita mau lebih dalam lagi, proses pembelajaran melepaskan diri dari kekuatan pasar “kapitalisme arab”, penumbangan “berhala pasarisme” diawali dan dilakukan Rasulullah dengan mengajak para sahabat ber-Hijrah ke Madinah. Para sahabat diajak untuk menggerus sifat “berhala pasarisme” dengan bertani, berkebun, bercocok tanam, aktivitas produktif lain seperti kerajinan, membuat peralatan dan persenjataan dari logam, selain mengenal pasar yang hanya mereka kenal di Mekkah waktu itu. Para sahabat dari Mekkah (Muhajirin) diajak berinteraksi sosial dengan kesantunan dan berbagi seperti masyarakat Madinah asli (Anshor) lakukan. Para sahabat juga diajarkan lewat hadits “yang lebih baik itu berdagang, tetapi yang lebih baik lagi adalah dengan tanganmu”. Makna hadits itu bukan hanya berdagang yang baik, malahan yang paling baik adalah produktif.

Ya, diskusi mengubah mentalitas para sahabat penting di Madinah itu, tetapi yang paling penting lagi sebenarnya adalah penumbangan “ruh berhala pasarisme”. Jadi? Bagaimana kemudian? Apakah perlu keseimbangan Masjid dan Pasar? Atau Masjid menjadi Payung atau “ruh” atas Pasar? Atau sebaliknya Pasar menjadi Payung asal tetap ber-ruh Masjid? Atau buang saja Pasar dan menggantikannya dengan Ekonomi ber-ruh Masjid saja?

MAU KE MANA MANUSIA INDONESIA? KE MANA UMAT?

Pasca 212 umat Muslim di negeri ini sedang memiliki semangat (untuk tidak mengatakan berebut ghonimah ala Perang Uhud yang kemudian menjerumuskan para sahabat pada masa kesedihan kedua pasca kemenangan Perang Badar) salah satunya berupa dampak dari konsolidasi ummat yang demikian bersemangat dari sisi perlawanan terhadap dominasi ekonomi oleh non Muslim serta perseteruan liberalisme akut (baca: ladang perebutan ekonomi Barat dan Cina Daratan di Indonesia) yang sangat besar dampaknya terhadap ketergantungan umat pada kebutuhan primer, sekunder dan tersier ekonomi. Luar biasa memang kesadaran ummat untuk mendorong kesamaan keinginan menumbuhkan kesejahteraan negeri ini lewat kemandirian ekonomi. Masalahnya adalah, apakah memang secepat dan sedahsyat itu kekuatan ummat berubah? Apakah ini bukan jebakan yang melenakan terhadap agenda lebih besar, yaitu perubahan mendasar yang masih seperti sering saya katakan sebagai nafas panjang ummat menuju kemandiriannya? Untuk melihat lebih jauh fenomena 212 dan perjalanan ummat di negeri ke depan, mungkin akan tepat bila kita coba menelusuri pengalaman tuntunan kita semua, Hijrah Rasulullah, Muhammad SAW dan para sahabat dalam membawa peradaban.

Yang jelas, Peristiwa Hijrah dari Mekkah (sebagai simbol berhala duniawi, ketimpangan ekonomi, dan rasionalisasi segala sesuatu) menuju Madinah (keseimbangan dunia dan akherat, keseimbangan transaksi-produksi-retail, keseimbangan pikir dan zikir). Di Madinah, di Masjid Nabawi, tempat paling sakral, rumah Allah, semua hal dikomunikasikan, para sahabat dari Mekkah (Muhajirin) tidak membawa sama sekali harta yang berlimpah di kampung halamannya, dan diminta untuk melakukan kerjasama tanpa berasaskan transaksional dengan penduduk Madinah (Anshor), semua didasarkan pada keikhlasan melakukan aktivitas kehidupan, dan berujung pada ibadah menuju surga-Nya. Artinya, tidak ada itu pemisahan politik, ekonomi, sosial, budaya yang bersifat profan, semua harus bersifat utuh, menyatukan yang Bumi dan Langit. Di samping itu, tidak ada manusia kelas satu, kelas dua, apalagi kelas tiga, kelas keset, semua manusia sama di antara sesama manusia, dan semua sama di hadapan Allah SWT. Bayangkan saja, di masa itu pula seorang Bilal, eks budak hitam suku Quraisy dari Afrika, kumal, tak nampak seperti Mekkah Gentlement yang gagah, bersih, berbajukan sutra, penuh perhiasan yang menampakkan kekayaan material, oleh Rasulullah, dipercaya menjadi pelantun adzan lima waktu shalat menghadap Sang Maha Kaya. Bilal bahkan diberikan tempat paling tinggi, tidak ada orang lain, yang kaya, bersih, gantengpun, yang boleh menaiki menara masjid di Madinah. Pertanda apakah itu?

Negeri ini milik bersama, Umat Islam harus terdepan mengajak entitas ummat lain membangun kebudayaan dalam Kerangka Religi, bukan lainnya. Negeri harus diselamatkan lewat konsolidasi kebudayaan, Kebudayaan Beragama. Masih ada waktu, menjelang takdir 100 tahun simbol kemenangan yang harus diraih sejak 1924 Kongres Al-Islam ketiga di Surabaya, saat ini menjelang 2024 melakukan perubahan dengan mengedepankan kebudayaan dalam kerangka religiositas, Kebudayaan Bermarwah Masjid, sedangkan Pasar tetap perlu tetapi harus diletakkan di kodrat aslinya, bukan menjadi superior dibanding Masjid (seperti saat ini dan telah menjadi kebenaran umum). Kebersamaan akan terjerembab kerumitan tak berujung, apabila tidak dijalankan dengan kekuatan utama nilai normatif agama, sebagai janji kebangsaan para the founding father. Perang Badar 624 dan puncaknya di tahun 1324, mengayun di titik nadir 1924, runtuhnya Turki Usmani sekaligus konsolidasi umat di seluruh negeri Muslim seluruh dunia, terutama di Nusantara di tahun yang sama. Maka, 2024 seharusnya kita bersiap diri menjelang ayunan peradaban untuk ummat Islam sedunia melalui konsolidasi di Indonesia. Tanda-tanda sudah nampak, mungkin tahun 2010 sampai 2019 adalah tahun-tahun kesedihan di permukaan, harga yang harus kita bayar untuk mempersiapkan loncatan 2020, sebagaimana pernah disinyalkan Allah melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj di tahun 620, dilanjutkan peristiwa aqabah I dan aqabah 2 sebagai penanda Hijrah 622. Hijrah kita hanya tinggal hitungan tahun dari sekarang menuju 2022 menjelang 2024, menjelang puncak Fathul Mekkah kontekstual masa depan 2029, di negeri ini, sebagai awal dari pusat peradaban umat. Semoga upaya panjang lebar sebagaimana dijelaskan di atas adalah doa dan dengan doa penuh ikhlas serta hanya mengedepankan upaya menggerakkan perubahan sejarah peradaban sesuai dengan ruh langit, ruh Illahi Rabbi, saya punya keyakinan besar bahwa setiap kita akan menjadi umatnya yang selalu mengedepankan kebersamaan, bukan nafsi-nafsi apalagi transaksional, semua dalam kerangka ibadah sebagai Abd’ Allah sekaligus keumatan sebagai Khalifatullah fil ardh .

Kebersamaan juga tidak akan terjadi bila tak ada dari kita yang mencoba menjalin silaturrahmi tanpa pandang bulu, tua-muda, berkuasa-jelata. Semua harus duduk bersama, saling memahami, berkeikhlasan, tanpa mengedepankan mentalitas transaksional apalagi politisasi serta menunjukkan sikap berkuasa dalam segala bentuknya. Demi waktu, sadar dan bangkit, hanya untuk, seperti tiga kata magis Rasulullah SAW., Ummati, Ummati, Ummati. Innashalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin.

[1] Kuntowijoyo. 1999. Masjid atau Pasar: Akar Ketegangan Budaya di Masa Pembangunan. dalam buku: Budaya dan Masyarakat. Penerbit Tiara Wacana. Yogyakarta.

[2] Weber, M. 1930. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Penulis adalah Ketua Yayasan Rumah Peneleh, Dosen tetap Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya.

Tulisan ini sebagian diambil dari buku 2024: Hijrah Untuk Negeri

/ Opini / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish