Sekolah Ikhlas Ramadhan: Islam Menyikapi Pluralisme

ramadhan-2016-zelfbestuur-hos-tjokroaminoto-cokroaminoto (2)

Sekolah Ikhlas Ramadhan: Islam Menyikapi Pluralisme

ramadhan-2016-zelfbestuur-hos-tjokroaminoto-cokroaminoto (2)

RumahPeneleh.or.id, Malang – Materi pada sore tadi (13/06) Sekolah Ikhlas Ramadhan adalah “Islam Menyikapi Pluralisme” yang dibawakan oleh Ust. Ali Djamhuri, Ph.D, Dosen FEB Universitas Brawijaya.

“Mengakui keberagaman pada dasarnya merupakan bagian dari akhlaq, rahmat dari Allah SWT, rahmatan lil ‘alamiin,” kata Ali Djamhuri membuka kajian sore tadi.

Dalam sudut pandang sosio-histori, Islam selalu berhadapan dengan segala bentuk keberagaman, terutama dalam perkembangannya. Dalam beberapa catatan sejarah seperti saat kekhalifahan Islam di Cordoba, di masa itu kerukunan antar umat beragama sangat terasa dan kongkrit.

“Justru fenomena disintegrasi antarumat, terutama di kalangan Islam sendiri adalah hal yang aneh, ada apa?” lontar Ali Djamhuri kepada peserta yang hadir.

Dalam sejarah, bahkan dalam perang sekalipun dalam ajaran Islam ada aturan-aturannya, bukan asal menyerang tapi berdasar kesepakatan kedua pihak. Beberapa aturan seperti tidak boleh membunuh kuda, merusak ladang, membunuh kurir diterapkan betul pada beberapa ekspansi zaman Nabi maupun kekhalifahan.

Dalam Islam, keberagaman kelompok, perbedaan sangatlah dihargai, bahkan bisa bekerjasama selama untuk kebaikan. Artinya mengakui keberagaman, secara implisit adalah menghindari perpecahan dan sinergi untuk kebaikan.

Ali Djamhuri menambahkan, “Al-Maidah (8) memerintah berbuat adil sesama kita maupun kepada kaum lain, berlaku adillah karena itu dekat dengan taqwa.”

Allah tidak pernah menjadikan kaum manusia menjadi satu macam atau golongan, tapi justru dengan perbedaan agar saling mengisi.

Pluralisme menjadi suatu polemik di antara umat Islam sendiri, polemik itu yang harus kita waspadai. Kekeliruan pluralisme sekarang adalah terlalu ekstrimnya pemahaman pluralisme hingga pada visi keimanan/ketaqwaan.

Ali Djamhuri memberi kesimpulan bahwa pluralisme sendiri harus tetap pada koridornya, bukan pada wawasan kesatuan iman, tapi lebih pada saling menghargai dan bekerjasama dalam kehidupan keseharian, untuk kebaikan.[]

ramadhan-2016-zelfbestuur-hos-tjokroaminoto-cokroaminoto (1)

Ikuti Peringatan 1 Abad Zelfbestuur 1916-2016 serentak di Surabaya‬, Jakarta‬, Yogyakarta‬, Palu‬, Gorontalo‬, Bima‬, Mataram‬, Malang‬, Madura‬, Jember‬, Palopo‬, 17 Juni 2016.

Simak infonya melalui Instagram, Twitter dan Facebook dengan official hashtag #ZELFBESTUUR

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish