Saya Tidak Lahir dan Besar di Papua, Namun Saya Jatuh Cinta Kepadanya (2)

Saya Tidak Lahir dan Besar di Papua, Namun Saya Jatuh Cinta Kepadanya (2)

Oleh: Thio A. Dwiprasetya*

 

Sebelumnya: Saya Tidak Lahir dan Besar di Papua, Namun Saya Jatuh Cinta Kepadanya (1)

Pukul 11.00 WIT, proses pembelajaran di sekolah berakhir. Tidak seperti biasanya, sebelum berdoa untuk mengakhiri kegiatan kami hari itu, kami memberitahukan pengumuman bahwa hari Kamis mendatang sekolah libur. Alasan kami tidak bisa hadir untuk mengajar karena kami akan mengadakan seminar hasil Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selain pengumuman terkait libur, kami juga mengundang anak-anak untuk hadir di acara seminar hasil tersebut pukul 08.00 WIT. Sesuai jadwal, acara akan dimulai pukul 09.00 WIT di Aula Kabupaten Puncak yang terletak di Kampung Kago, sekitar 2 jam perjalanan kaki dari sekolah. Mereka senang hati menyambut undangan dari kami. Kami turut juga mengundang bapak dan ibu guru SD Inpres Ondogura untuk hadir di acara tersebut.

Pagi itu matahari bersinar cerah walau tak cukup untuk mengusir hawa dingin Kampung Kago, Ilaga yang mencapai 8 derajat celcius. Kami bersiap untuk mengadakan seminar hasil. Seminar hasil ini bertujuan untuk mempublikasian seluruh kegiatan selama kami berada di Ilaga selama kurang lebih 2 bulan. Saya dan Disti salah satu teman kerja saya selama mengajar, diberikan amanah untuk menyambut adik-adik dari SD Inpres Ondogura di aula. Kami tidak menyangka tepat pukul 07.50 WIT anak-anak tersebut sudah hadir dengan ditemani oleh beberapa guru di aula. Mereka berpakaian rapi walau tak bersepatu. Mereka datang dengan keceriaan yang khas di wajah mereka. Merekalah tamu undangan yang hadir pertama kali di acara seminar hasil tersebut. Selanjutnya, kami bariskan mereka di depan aula. Salah seorang siswa bertanya, “Pang Guru, bolehkah kami duduk di depan itu, biar kami dapat melihat Pang Guru dan Bung Guru (panggilan sehari-hari anak-anak kepada bapak dan ibu guru) dengan jelas?” Mereka meminta untuk duduk di depan (dekat panggung utama), dengan senang hati kami persilakan mereka untuk duduk di bagian depan.

Pada pukul 09.00 WIT, seharusnya acara sudah dimulai sesuai jadwal, namun tamu undangan masih belum banyak yang nampak hadir di aula tersebut, termasuk Bupati dan Kepala Dinas setempat. Kami memang mengundang mereka untuk hadir di acara kami, agar mereka dapat mengetahui dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang sudah kami lakukan selama di Ilaga. Hanya nampak Pak Feri selaku kepala Dinas Pertanian yang hadir waktu itu. Dalam undangan, kami meminta tamu undangan untuk hadir pukul 08.30 WIT. Pada waktu itu, kami mendapatkan kabar bahwa ada suatu kendala yang mengakibatkan bupati belum bisa hadir di tempat acara. Sampai pukul 11.00 WIT, acara belum juga dimulai karena sebagian besar tamu undangan belum datang, Saya yang waktu itu menemani anak-anak dan Bapak Ibu guru SD Inpres Ondogura, masih melihat keceriaan dan antusiasme mereka dalam mengikuti acara. Tidak nampak kekecewaan dari raut wajah mereka lantaran sudah menunggu lama. Yang ada hanya senyum tawa manis khas anak-anak Ondogura. Akhirnya, acara dimulai pukul 11.30 WIT begitu Bupati dan beberapa kepala dinas Kabupaten Puncak hadir. Acara tersebut dimulai dengan sambutan bupati dengan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Melkias Kogoya, salah satu tokoh masyarakat di Ilaga.

Waktu telah menunjukan pukul 16.00 WIT, anak-anak masih setia untuk duduk di acara tersebut, padahal tamu undangan seperti Bupati dan jajaran kepala dinas sudah meninggalkan acara kami sejak pukul 14.00 WIT. Acara seminar hasil tersebut diakhiri dengan foto bersama. Kami pun mengajak anak-anak untuk foto bersama dengan seluruh anggota tim KKN. Bertepatan dengan foto bersama tersebut, hujan deras turun di bumi Ilaga. Hujan tersebut diiringi dengan angin kencang khas angin lembah di dataran tinggi. Sore itu, setelah semua rangkaian acara selesai, anak-anak berniat langsung meninggalkan aula tersebut untuk pulang ke honai mereka masing-masing. Saya dan Disti sempat menahan kepulangan mereka karena hujan deras disertai angin kencang masih belum reda dan mengingat kampung mereka cukup jauh dari aula, sekitar 2 jam perjalanan jalan kaki. Namun, saya ingat ada beberapa siswa yang berkata pada kami, “Pang guru, biarkan saja kami pulang ke honai kami, kami sudah ditunggu Mamah Bapa untuk pulang ke honai, biarkan hujan menemani kami sampai ke honai”.

Tentu saja, saya, Disti, dan beberapa teman lainnya tersentuh mendengar ucapan tersebut. Saya tidak menyangka mereka memiliki komitmen dalam menghargai orang. Janji kepada orang tua mereka bahwa sebelum jam 6 sore mereka harus sudah pulang ke honai-honai menjadi alasan mereka harus pulang walau hujan. Dengan berat hati, kami mengizinkan mereka pulang dengan diiringi hujan lebat beserta angin lembah yang kencang. Mereka pun tidak membawa perlengkapan untuk melindungi diri dari hujan. Setelah itu, saya melihat beberapa wajah teman KKN mengeluarkan air mata disertai perasaan haru biru saat melihat mereka beranjak meninggalkan aula. Saya merasa bangga memiliki siswa-siswi yang sangat menghargai waktu dan orang. Bagi saya, mereka sangat hebat dan seharusnya menjadi contoh bagi kita untuk menghargai waktu dan orang.

Sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga dan menambah kecintaan saya terhadap Indonesia, saya dapatkan setelah saya pulang dari Papua. Menjadi seseorang pembelajar disetiap tempat yang akan atau sedang kita lalui adalah niat saya sebagai manusia. Niat itu yang selalu saya tanamkan ke diri saya pribadi dan ketika orang lain termasuk orang tua saya menanyakan kesungguhan diri saya untuk mengabdi bagi Indonesia. Niat yang selalu saya jaga bersama kecintaan saya pada tanah air, untuk menjadi pribadi pembelajar dimanapun saya berada.

“Saya tidak lahir, besar dan tumbuh di Papua. Namun, saya jatuh cinta kepadanya,” Thio A. Dwiprasetya.

*) Penulis adalah Aktivis Peneleh Angkatan II, Alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Seluruh Foto adalah dokumentasi Tim KKN PPA 03 Ilaga 2015.

/ Opini / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish