Teori Ketundukan: Gugatan terhadap Agency Theory

14954329_368914326774457_2108649302_o

Penulis Amelia Indah Kusdewanti, Iwan Triyuwono, Ali Djamhuri
Harga Rp. 100.000,-
Format Soft cover, 260 halaman paper book
ISBN 9786027419728
Cetakan Pertama, 2016
Penerbit Yayasan Rumah Peneleh (Seri Media & Literasi)
Tersedia di Tokopedia dan Bukalapak

Apakah yang kita sebut modern dan apa yang tradisional?

Dalam cara pandang Barat, modernitas adalah suatu progresivitas yang pasti benar, sedangkan tradisionalitas hanyalah kenangan indah yang cukup kita nikmati tapi perlu ditinggalkan; sesekali bolehlah dikunjungi untuk euforia akar-rumput sesaat. Jika mind-set seperti ini dimiliki oleh para pemuda penerus, maka jati diri bangsa dapat dipastikan akan segera musnah.

Apa pentingnya tradisionalitas?

Sebuah tradisi jelas berawal dari nilai-nilai yang dianut dan diyakini benar. Di Indonesia, nilai-nilai ketimuran yang sangat sarat keakraban komunal, spiritualitas, dan kearifan, banyak mewarnai cara hidup termasuk cara memaknai dan membangun pengetahuan. Sayangnya, modernitas menggulung tradisi dengan melakukan by-pass atas telaah nilai, dan langsung mengerucut pada penggantian praktik-praktik yang bersifat teknis. Kemyamanan teknologi ini pulalah yang pada akhirnya melenakan dan semakin menjauhkan diri dari nilai asali, perlahan tergantikan oleh nilai egoistis yang terbungkus teknologi.

Buku ini mengajak kita untuk meletakkan tradisi, khususnya nilai-nilai yang melandasinya, sebagai dasar dan bahkan mahkota pembangunan ilmu. Agency Theory (AT), sebuah teori sosiologi yang menjadi landasan konstruksi relasi manusia, tak ubahnya teknologi serupa di atas. Menariknya, nilai egoistis pada AT yang jelas-jelas tidak cocok dengan nilai-nilai Timur yang kita anut, justru menjadi arus utama diskursus, khususnya pada ilmu akuntansi. Melalui pendidikan, terjadi pergeseran yang berkesinambungan menuju modernitas. Buku ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali bagaimana masa depan peradaban Islam, bahkan bagaimana masa depan Tuhan sendiri, jika ini dibiarkan terus berlangsung.

Buku ini secara gamblang melakukan gugatan terhadap AT yang turut serta membentuk akuntansi modern. Positive accounting theory yang menjadi landasan pengembangan utama teori-teori akuntansi modern dikembangkan dari agency theory. Dengan kata lain, AT menjadi induk dari seluruh konsep dan teori akuntansi. Landasan fundamental dalam AT ini menegasikan Tuhan sebagai ultimate reality, nilai, etika serta moral.

Karena hal tersebut serta adanya konsekuensi logis di atas, maka AT perlu untuk digantikan dengan teori lain yang nantinya akan menjadi ruh akuntansi yang lebih baik dengan menengok kembali bagian dari “tradisionalitas” yang telah lama ditinggalkan. Gunungan wayang adalah warisan budaya yang digunakan untuk membangun suatu teori baru untuk menggantikan AT. Gunungan wayang memiliki pertalian yang erat dengan pengetahuan mengenai Esensi. Setiap gambar melukiskan sebuah perjalanan panjang dalam beberapa tingkatan dalam rangka penelusuran jati diri manusia sebagai ciptaan dari Sang Pencipta.

Gunungan tercipta dalam peradaban Jawa yang memiliki nilai religiositas yang amat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya dalam pengetahuan Esensi yang terjawantahkan dalam gunungan, terkandung asal-muasal nilai sebagai sentrum utama dalam pembentukan, ide, serta simbol, dan menjadi budaya. Tatanan nilai yang melingkuinya berasal dari nilai ilahiah yang pada akhirnya menjadi antitesis dari materialisme modern yang dibawa oleh AT.

Teori Ketundukan yang ditawarkan penulis merupakan suatu jalan menuju tujuan utama, yakni beribadah, tunduk, serta kembali kepada-Nya dengan kesadaran utuh yang muncul karena eksistensi kehadiranNya (sebagai ontologi). Oleh karena itulah buku ini adalah buku yang selaras dengan jiwa Yayasan Rumah Peneleh untuk selalu membangkitkan kesadaran kebangsaan dan religiositas.

Yayasan Rumah Peneleh Rumah Peneleh adalah rumah gerakan yang didedikasikan untuk penggodokan ide dan upaya-upaya perubahan sosial kebudayaan menuju peradaban nusantara yang berketuhanan, adil, makmur, dan sejahtera. Nama “Rumah Peneleh” merujuk pada rumah HOS Tjokroaminoto, raja Jawa tanpa mahkota, tokoh sentral Syarikat Islam (SI), di jalan Peneleh Surabaya. Di rumah tersebut berkumpul anak-anak muda dan tokoh-tokoh pergerakan, yang berdialektika dalam dialog keislaman dan kebangsaan dengan visi memerdekakan nusantara dari penjajahan dunia. Mereka adalah H. Agoes Salim, Abdoel Moeis, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Ahmad Dahlan, K.H Mas Mansoer, A.M. Sangaji, Abikoesno Tjokrosoejoso, Soerjo Pranoto, Soekarno, RM. Kartosoewirjo, HAMKA, Semaoen, dan lain-lain. Rumah Peneleh telah resmi berbadan hukum dengan akte Yayasan Rumah Peneleh, no 64, tanggal 26 Oktober 2015 (notaris Fauzi Agus SH) dan SK Menkunham nomor AHU-0021449.AH.01.04 (6 November 2015).

Buku ini merupakan buku keempat yang diterbitkan oleh Yayasan Rumah Peneleh. Buku pertama adalah “HOS Tjokroaminoto: Jejak dan Perjuangan” yang diterbitkan bekerjasama dengan Galang Press; disusul oleh “Metodologi Penelitian Kualitatif: Pengantar Religiositas Keilmuan”, dan “Gula untuk Rakyat (?)”. Sejak 2016, Yayasan Rumah Peneleh telah secara mandiri menjadi penerbit resmi yang mempublikasikan buku-buku dengan semangat kebangsaan dan religiositas yang sama. Kita harus bangga akan jati diri kita. Local wisdom bukanlah local foolishness. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menghargai diri kita sendiri?

Semoga buku ini mampu membakar kembali semangat “pulang ke rumah asali”, ke Indonesia dengan seluruh kekayaan ilmunya. Selamat membaca.

en_USEnglish
en_USEnglish