Sistem Pengendalian Manajemen Berbasis Spiritualitas

sistem-pengendalian-manajemen-berbasis-spiritualitas-rumah-peneleh-hos-tjokroaminoto

Penulis Sujoko Efferin
Harga Rp. 75.000,-
Format Soft cover, 185 halaman book paper
ISBN 9786027419735
Cetakan Pertama, 2016
Penerbit Yayasan Rumah Peneleh (Seri Media & Literasi)
Tersedia di Tokopedia dan Bukalapak

Spiritualitas kini menjadi trending topic. Benarkah demikian?

Dalam perspektif posmodernis, kelelahan akan modernitas dan segala hal yang berbau rasionalitas pada akhirnya membuat manusia kembali mempertanyakan arah dan tujuan hidup mereka. Spiritualitas dan termasuk religiositas yang dianggap “tabu” untuk didiskusikan di ranah keilmuan dimunculkan kembali. Hence, istilah posmodern atau postmodern (“setelah” era modernitas) disematkan di kajian-kajian yang berbau spiritualitas. Saat spiritualitas menjadi trending topic maka sama saja kita mengekor pada zaman, manusia dibentuk zaman, bukan manusia yang membentuk zaman. Manusia larut seperti buih yang mengekor pada keadaan.

Ya. Itu jika kita mengamini keberadaan dunia posmodern yang berarti mengamini pula bahwa modernitas “pernah” benar. Bahwa pernah “benar” saat dulu kita meninggalkan Tuhan, dan pernah “benar” pula saat dulu kita menganggap ilmu harus terpisah dari Tuhan (baca :sekuler). Dan saat kini kita mengangkat Tuhan, maka Tuhanpun harus berada dalam logika manusia. Jika manusia ingin kaya, maka Tuhan dibentuk sesuai keinginan manusia: “Tuhan menginginkan manusia kaya, lalu bagaimana agar manusia kaya tanpa meninggalkan Tuhan?” David Ray Griffin (1989:65) dalam bukunya “God and Religion in the Postmodern World: Essay in Postmodern Theology” menjelaskan pandangan para posmodernis tentang Tuhan dan spiritualitas:

“God does not have and could not have a monopoly on power and therefore cannot unilaterally determine the events in the world. The reason for this is that the creatures have their own inherent creative power to actualize themselves and to influence others, and this power cannot be overridden.”

Dalam pandangan para posmodernis, manusia “membentuk” Tuhan yang sesuai dengan pikiran modern mereka. Sehingga muncullah kemudian berbagai pemikiran seperti “Kekuatan Semesta” yang akan membantu keinginan kita; “Kekuatan Pikiran Positif” yang akan membuat kita bahagia, dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah redefinisi Tuhan “baru” yang “cocok” dalam mindset modernisme.

Islam sebenarnya menolak pandangan ini: “Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam” (Qs. Al-Takwir: 29), serta: “Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah” (Qs. Al-Insan: 30). Namun di sisi lain, Tuhan memberikan kebebasan: “Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Qs. Al-Najm: 29) serta pada ayat lainnya, “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-(Nya).” (Qs. Al-Fusshilat: 46).

Buku ini dapat dilihat sebagai modus yang sama untuk mengangkat kembali spiritualitas/religiositas yang sempat “hilang”. Di awal tulisan, Sujoko mengangkat bagaimana materialisme telah menjadi akar sifat yang melekat pada diri manusia, adalah suatu lingkaran setan yang akan menyebabkan manusia semakin terpuruk dalam individualisme dan kesedihan.

Sebagaimana relativitas yang menjadi kekhasan tulisan posmodernis, Sujoko menempatkan agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu dalam sebuah tataran yang sama; dalam hal eksplorasi nilai religius untuk menginjeksikannya ke dalam Sistem Pengendalian Manajemen (SPM). Ya. Selama ini SPM memang dipandang sebagai suatu sistem mekanistis yang objektif. Dengan memasukkan nilai-nilai agama, SPM berbasis spiritualitas akan membawa organisasi serta individu-individu di dalamnya, menuju kesejahteraan, tidak hanya materi saja namun juga batin. Di sini Sujoko dengan indah memperkenalkan organisasi spiritual:

“Organisasi spiritual adalah organisasi yang memiliki tujuan utama dan niat luhur yang melampaui kesuksesan materi sebagai landasan operasinya. Tujuan tersebut termasuk memberikan kebahagiaan pada seluruh stakeholders (investor, karyawan, pelanggan, lingkungan dan masyarakat), menciptakan keselarasan dengan alam, serta menanamkan etika berbasis nilai-nilai kebaikan yang universal-transendental dalam diri setiap anggotanya. Jadi organisasi spiritual menumbuhkembangkan empat dimensi spiritualitas yang disebutkan di bagian sebelumnya, yaitu: welas asih, kesadaran penuh, aktivitas yang bermakna mendalam dan transendensi pada para anggota organisasinya.”

Sedikit berbeda dengan pandangan agama posmodernis, dalam buku ini Sujoko tetap mempertahankan kebenaran setiap agama (tidak berupaya meredefinisikan ulang agama). Ia menggunakan istilah nilai “universal-transendental” untuk menempatkan agama pada akar Ilahiahnya dalam masing-masing perspektif. Sujoko menghargai keberagaman keberagamaan, dan menunjukkan keindahan setiap agama dalam mencapai spiritualitasnya masing-masing. Hal ini membuat buku ini menarik, dan membuka wacana baru, bahwa SPM dapat dibentuk sesuai dengan kepercayaan masing-masing; dan bahwa SPM berbasis spiritualitas (dari agama manapun) akan menghindarkan manusia dari sifat egoistiknya yang pada akhirnya secara keseluruhan akan membentuk organisasi yang juga lebih spiritual.

Konsekuensi logis dari niat mulia yang melandasi aplikasi SPM pada akhirnya secara teknis berujung pada perumusan parameter kinerja finansial dan kinerja sosial dan lingkungan hidup. Dalam hal ini Sujoko telah mencoba merumuskan bagaimana indikator-indikator ini dapat mencerminkan spiritualitas anggota dan organisasi. Untuk memperkuat argumennya, Sujoko telah memasukkan contoh konkret bagaimana beberapa organisasi telah mempraktikkan hal serupa.

Napas religiositas menjadi napas yang selaras dengan visi dan misi Yayasan Rumah Peneleh. Yayasan Rumah Peneleh Rumah Peneleh adalah rumah gerakan yang didedikasikan untuk penggodokan ide dan upaya-upaya perubahan sosial kebudayaan menuju peradaban nusantara yang berketuhanan, adil, makmur, dan sejahtera. Nama “Rumah Peneleh” merujuk pada rumah HOS Tjokroaminoto, raja Jawa tanpa mahkota, tokoh sentral Syarikat Islam (SI), di jalan Peneleh Surabaya. Di rumah tersebut berkumpul anak-anak muda dan tokoh-tokoh pergerakan, yang berdialektika dalam dialog keislaman dan kebangsaan dengan visi memerdekakan nusantara dari penjajahan dunia. Mereka adalah H. Agoes Salim, Abdoel Moeis, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Ahmad Dahlan, K.H Mas Mansoer, A.M. Sangaji, Abikoesno Tjokrosoejoso, Soerjo Pranoto, Soekarno, RM. Kartosoewirjo, HAMKA, Semaoen, dan lain-lain. Rumah Peneleh telah resmi berbadan hukum dengan akte Yayasan Rumah Peneleh, no 64, tanggal 26 Oktober 2015 (notaris Fauzi Agus SH) dan SK Menkunham nomor AHU-0021449.AH.01.04 (6 November 2015).

Buku ini merupakan buku kelima yang diterbitkan oleh Yayasan Rumah Peneleh. Sejak 2016, Yayasan Rumah Peneleh telah secara mandiri menjadi penerbit resmi buku-buku dengan visi kebangsaan dan religiositas. Dengan rendah hati kami menyajikan buku ini ke tangan para Pembaca. Harapan kami, buku ini dapat menjadi pemicu untuk selalu berkarya dengan tujuan mulia; mendekatkan manusia kepada penciptaNya.

Selamat membaca.

en_USEnglish
en_USEnglish