Gula Untuk Rakyat (?) Nestapa Petani Tebu dalam Kuasa Neoliberal

14964099_371284426537447_896513153_o

Penulis Bambang Hariadi, A. Dedi Mulawarman, Ari Kamayanti, Virginia Nur Rahmanti dan Tim
Harga Rp. 75.000,-
Format Soft cover, 198 halaman
ISBN 9786027419711
Cetakan Pertama, Juni 2016
Penerbit Yayasan Rumah Peneleh (Seri Media & Literasi)
Tersedia di Tokopedia, Bukalapak dan Winmarket

Buku ini adalah hasil kepedulian dosen dan mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya pada akuntansi pertanian Indonesia, khususnya pada petani yang termarjinalkan akibat praktik akuntansi. Sebagai bagian dari seri Akuntansi Pertanian Berpihak, buku ini merupakan buah karya keempat. Karya pertama adalah sebuah buku terbitan UB Press yang berjudul “Gugurnya Petani Rakyat”. Karya kedua dan ketiga dalam proses penyuntingan di UB Press pula terkait dengan valuasi asset biologis dan perkebunan tembakau. Konsistensi keberpihakan terhadap petani dan relasinya dengan akuntansi menjadi warna yang selalu hadir pada seri buku Akuntansi Pertanian Berpihak.

Melalui program hibah penelitian dan pengembangan pada masyarakat, empat orang dosen (Dr. Bambang Hariadi, Dr. Aji Dedi Mulawarman, Dr. Ari Kamayanti, dan Virginia Nur Rahmanti, MSA) melakukan penelitian bersama dengan satu mahasiswa S2 akuntansi (Jordan Ekklesias Sitorus), sembilan mahasiswa S1 akuntansi (Stefi Suwarlan, Jhon Haloho, Emir Faisal Baihaqi, Grace Sheilla, Annisa Rizkaninghadi Imansari, Haris Maulana, Sintia Farach Dhiba, Nisrina Habibaty, Endang Praptiningsih) dan satu mahasiswa S1 ekonomi (Azhar Syahida). Penelitian diadakan di beberapa situs yaitu Pabrik Gula Krebet, Pabrik Gula Candi, dan di komunitas petani di daerah Gondanglegi, Singosari, dan Sidoarjo. Ini adalah kali pertama sebuah penelitian akuntansi pertanian berpihak dilakukan secara masif dan multifaset, sehingga hasilnya kini ada di tangan Anda.

Penelitian-penelitian yang menjadi temuan utuh dalam buku ini dilakukan dengan tiga alat analisis yaitu etnometodologi kritis, teori sosiologi Pierre Bourdieu, dan analisis isi. Etnometodologi kritis yang dilakukan di sini pada dasarnya mempelajari aktivitas keseharian petani tebu lalu menelaah kondisi nir-ideal yang terjadi akibat permainan kuasa dalam praktik akuntansi maupun pembiayaan. Alat analisis ini digunakan untuk menelaah penentuan HPP gula (Bab 4), pembiayaan dari lembaga keuangan dari perspektif petani (Bab 7) dan kesejahteraan petani (Bab 8). Pemikiran Bourdieu tentang doxa dan habitus, digunakan untuk menelaah ranah kuasa yang “menjajah” petani dari sisi penentuan Net Farm Income (NFI) (Bab 3), peran lembaga keuangan dalam melanggengkan penjajahan ini (Bab 6), serta kesulitan petani mempertahankan usaha taninya (Bab 9). Pendekatan ini dirumuskan oleh Bourdieu (1989:101) sebagai [(Habitus)(Capital)]+Field= Practice.

Bagian Pertama buku ini menceritakan tentang kondisi makro gula nasional Indonesia yang sebagian besar diambil dari disertasi Dr. Bambang Hariadi. Sejarah gula Indonesia serta polemik yang dihadapi oleh Pabrik Gula disajikan di bagian ini. Bagian kedua menceritakan tentang praktik akuntansi gula yang dilakukan petani, mulai dari menghitung biaya hingga keuntungan yang mereka peroleh. Bertolak dari perspektif petani, maka bagian ini menceritakan basis pemahaman dan pemaknaan mereka terhadap praktik akuntansi, sehingga muncul istilah-istilah khas yang tidak selalu ditemui pada praktik akuntansi konvensional. Bagian ini juga menceritakan bagaimana bentuk “akuntansi” non-korporasi pertanian yang mereka lakukan.

Bagian ketiga masuk pada peran lembaga keuangan yang mendampingi usaha tani tebu. Di sini ada dua perspektif yang disorot yaitu perspektif lembaga keuangan dan perspektif petani sendiri. Dua sorotan ini akan memberikan gambaran yang utuh tentang peran lembaga keuangan dalam menopang kesejahteraan petani tebu. Bagian keempat menjelaskan tentang kesejahteraan serta keberlangsungan hidup petani. Di bagian ini kondisi pada ujung pergulaan nasional, yaitu buruh tani diungkapkan dengan lugas. Terdapat pula kondisikonsisi ekonomi sosial yang menyulitkan petani untuk terus berkiprah sebagai petani tebu.

Akhirnya, kami hanya ingin memberikan sebuah usaha terbaik kami untuk meruntuhkan stigma menara gading akademisi yang berjarak dari realita. Sudah waktunya, kita membaktikan diri untuk negeri tercinta dan membela kaum yang lemah. Akuntansi sebagai ilmu seharusnya pula mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat kecil tidak melulu menyibukkan diri di hiruk pikuk pasar modal global.

en_USEnglish
en_USEnglish