Mosi Hijrah Kebangkitan Nasional Baru

aji-dedi-mulawarman-milad-syarikat-islam-indonesia-2015-kebangkitan-nasional

Mosi Hijrah Kebangkitan Nasional Baru

aji-dedi-mulawarman-milad-syarikat-islam-indonesia-2015-kebangkitan-nasional

Hijrah 110 Tahun Kebangkitan Nasional Baru (1905-2015)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bapak Ibu yang terhormat, hari ini, kita memperingati perayaan Tahun Baru Islam, tahun baru Hijrah tanggal 1 Muharam 1437 yang sangat dekat dengan perayaan 110 Tahun Sarekat Dagang Islam, 16 Oktober 2015. Sepertinya Allah telah mendorong kita untuk bersegera melakukan Hijrah, dengan apa yang kami sebut Hijrah Kebangkitan Nasional Baru. Melalui 4 Momen Hijrah, Sejarah, Demokrasi, Ekonomi dan Kebudayaan.

Pertama, Hijrah Kesejarahan. Dua hari yang akan datang 110 tahun lalu, 16 Oktober 1905 merupakan tonggak yang tidak mungkin dihapus. Dua hari yang akan datang 110 tahun lalu saat H. Samanhudi membentuk organisasi modern pertama di negeri ini, yaitu Sarekat Dagang Islam, yang ruhnya lebih menusantara daripada Budi Utomo yang hanya Jawa dan Madura.

Bapak Ibu yang terhormat, fakta bahwa negeri ini telah menorehkan 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional merupakan bentuk reduksi sejarah yang mewujud dari mental orientalis. Sebagaimana Belanda, Mbahnya Orientalisme, telah berhasil mereduksi keberadaan peran wali songo sampai hancurnya jejak situs kerajaan Demak, untuk menghilangkan peran sentral Islam di Negeri ini. Jika kita masih mengakui Soekarno sebagai salah satu pendiri bangsa, maka kita harus meyakini pula bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah seperti ditegaskan beliau JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Sejarah menunjukkan bahwa Soekarno adalah murid yang sangat mencintai guru utamanya, HOS Tjokroaminoto, tak ada yang melebih beliau sebagaimana beliau mengucapkannya “Cerminku adalah Tjokroaminoto”. Artinya, Tjokroaminoto adalah guru kita semua, guru para pemimpin negeri ini. Apabila negeri ini memahami bahwa Tjokroaminoto adalah guru kita semua, Guru Jang Oetama, dan beliau adalah pejuang paling tangguh penerus perjuangan Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam, maka selayaknyalah momen 16 Oktober 1905 adalah momen kebangkitan sesungguhnya.

Negeri ini wajib melakukan pelurusan sejarah atas ruh Kebangkitan Nasional kita, bukannya momen 1908. Hal ini kita lakukan agar kita tidak menjadi sosok seperti para penjarah negeri ini, sosok Londo Bulak, berjiwa orientalis. Atau kita memang akan mengamini prediksi Bung Karno bahwa musuh terbesar dan berbahaya di negeri ini adalah bangsa kita sendiri, manusia Indonesia berkulit sawo matang berotak Barat?

Bapak Ibu yang dimuliakan Allah, saatnya kita melakukan pula Hijrah Kedua, Hijrah dari Demokrasi Liberal menuju apa yang dicita-citakan Pancasila sila keempat, Syura, Musyawarah Mufakat. Musyawarah adalah amanah konstitusi yang harus dijaga demi menjaga persatuan Indonesia. Founding Fathers kita jelas sekali lebih mengedepankan musyawarah mufakat dalam keterwakilan, untuk memilih pemimpin negeri ini, baik eksekutif maupun legislatif. Yang terjadi saat ini adalah sistem Pemilihan Umum kita adalah Sistem Pemilihan Umum paling Kompetitif, yang berlawanan dengan sistem musyawarah. Siapa punya nama dan uang dia yang menang.

Belum lagi liberalisasi telah juga merangsek pada hilangnya Sila Ketiga, Persatuan Indonesia lewat Otonomi Daerah, baik dari sisi pemerintahan maupun pengelolaan keuangan yang sangat federalistis. Nyawa kita saat ini harus dipertaruhkan dalam kompetisi head to head, mulai akar rumput sampai puncak kekuasaan negeri ini. Menjadi wajar bila dekade terakhir ini betapa banyak wacana ekspansi yang mengarah pada keinginan berbagai wilayah untuk merdeka, yang dipicu konsep pemerintahan terpisah.

Bapak Ibu yang dirahmati Allah, Hijrah Ketiga, Hijrah dari Ekonomi Neoliberal menuju ekonomi kerakyatan berkeadilan sosial seperti diamanatkan dalam Sila Kelima Pancasila. Tidak dapat disangkal bahwa kita telah terjebak dalam ukuranukuran universal numerik seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, anggaran defisit, nilai uang, harga minyak dunia. Politik Ekonomi kita juga diarahkan pada sistem Ekonomi Pasar Bebas dan Korporasi. Mengapa ukuran-ukuran perekonomian dan Politik Ekonomi kita tidak berkaitan dengan apa yang dicita-citakan founding fathers yaitu keadilan sosial?

Alih-alih pertumbuhan ekonomi bahkan telah menjerumuskan kita ke dalam jebakan-jebakan pasar bebas seperti MEA. Ya jebakan! Kita mengakomodasi buruh luar negeri daripada pekerja lokal sendiri atas nama efisiensi yang mengarah pada bertambahnya tingkat kemiskinan. Alih-alih defisit APBN kita terjerumus dalam utang LN yang mengarah pada pelucutan hak negara untuk mengatur subsidi dan proteksi pasar nasional.

Seharusnya kita membangun koperasi bukan korporat. Amandemen UUD 45 No 33 telah menghilangkan koperasi. Seharusnya kita tetap menjaga kebersamaan dan kerakyatan dalam berekonomi, bukannya memicu individualisme ekonomi transaksional. Mengapa kita tidak membangun Koperasi Multi Nasional, yang semua mendapat jaminan besar dan mendapat kesejahteraan bersama, malah kita terjebak pada logika dasar Korporasi Multi Nasional. Saatnya negara melakukan Hijrah Kebangkitan melalui GERAK, Gerakan Bangga Koperasi.

Bapak Ibu yang terhormat, Hijrah Keempat adalah Hijrah Kebudayaan dan Peradaban sebagaimana janji dalam sila kedua Pancasila, Manusia yang Beradab. Kita dan anak-anak kita kini menjadi manusia-manusia universal yang hilang sudah akar budayanya. Gerusan globalisasi telah memproduksi manusia-manusia hedonis melalui pendidikan, melalui Sekularisasi dan Westernisasi Sistem Pendidikan Nasional. Ya tujuan Pendidikan Nasional kita memang bertujuan mulia, mendidik manusia dan masyarakat Bertakwa serta Berjiwa Kebangsaan untuk membangun Indonesia sebagai pusat peradaban dunia, tetapi tidak dalam implementasinya.

MOSI HIJRAH KEBANGKITAN NASIONAL BARU

  • HIJRAH KESEJARAHAN, 16 Oktober merupakan tonggak Kebangkitan Nasional Pertama, dengan lahirnya Sarekat Dagang Islam tahun 1905.
  • HIJRAH DEMOKRASI, hijrah dari Demokrasi Liberal menuju cita-cita Demokrasi Pancasila, musyawarah untuk mufakat.
  • HIJRAH EKONOMI, hijrah dari Ekonomi Neoliberal kembali menuju Ekonomi Pancasila, ekonomi kerakyatan berkeadilan sosial.
  • HIJRAH KEBUDAYAAN, sesuai janji sila ke-2 Pancasila, manusia yang beradab, mengimplementasikan sistem pendidikan nasional yang tahan gerusan globalisasi.

Sungguh disayangkan kenyataan bahwa pendidikan kita sangat terkooptasi dengan mentalitas Barat. Tengok saja betapa kurikulum kita terjebak pada logika Liberalisme, banyaknya buku-buku asing bermuatan individualisme dan materialisme. Kita dipaksa dan didesain untuk mengikuti logika universal. Jika kita masih percaya kekuatan asali Nusantara serta kekayaan budayanya, bukankah kita yang seharusnya menjadi pusat peradaban? Hari ini kita harus melakukan hijrah kebudayaan yaitu dengan mengubah pola dari mengikuti desain peradaban yang ada menuju kesadaran berbudaya yang menjadikan kita pusat peradaban dunia. Ya kitalah Pusat Peradaban Dunia, bukan mereka.

Sudah saatnya kaum Sarekat Islam berhijrah, melakukan perubahan kurikulumnya, sebagaimana digagas HOS Tjokroaminoto melalui Moslem Nationaal Onderwijs. Mari kita mensinergikan dan bukan hanya mengajarkan Ilmu Agama dengan Ilmu Dunia secara terpisah, dengan tetap meletakkan Tauhid sebagai dasar serta berpihak pada kemajuan bangsa.

Bapak Ibu yang terhormat, akhirnya apa yang saya sampaikan hari ini adalah bentuk pernyataan kepedulian kita atas nasib Indonesia. Sebagaimana Tjokroaminoto menuntut mosi di Volkstraad, untuk membuat perubahan, maka sudah saatnya kita melucurkan Mosi Tjokroaminoto Baru, Hijrah Baru untuk Negeri, melalui Kebangkitan Nasional. Hari ini kita memberi pernyataan pada dunia bahwa Indonesia harus berdikari. Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri! Hari ini kita meneriakkan pada dunia bahwa Indonesia menggenggam kuat Zelfbestuur Kesemestaan Bertauhid, Pemerintahan Sendiri yang Kokoh untuk Menyongsong Semesta Bertauhid. Inilah makna Pancasila yang sejati.

Selamat tahun baru Hijrah, Selamat berhijrah dalam 110 tahun Kebangkitan Nasional Baru.

Billahi fi sabilil Haq,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dr. Aji Dedi Mulawarman

Mosi ini disampaikan oleh Aji Dedi Mulawarman di depan ribuan jama’ah yang hadir pada acara Tasyakur Milad 110 Tahun Sarekat Dagang Islam di Graha Jalapuspita, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 14 Oktober 2015.

/ Berita / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish