Menyelami Harap Mereka, Donggala-Palu; Perjalanan Menjemput Asa Aktivis Peneleh

Screenshot_20181016-082627_1

Menyelami Harap Mereka, Donggala-Palu; Perjalanan Menjemput Asa Aktivis Peneleh

Oleh Nabila Sului,

Aktivis Peneleh Palu

“Kita tidak boleh menyerah. Sekalipun tidak boleh, mesti bangkit setelah gagal. Harus mencoba meskipun takut.”

Itulah kalimat yang sering kita dengar, sangat bermanfaat saat ini padahal kala kemarin hanya menjadi buah bibir yang belum dapat feel -nya. Cukup mampu menguatkan kami setelah gagal mendapatkan boarding hercules menuju Palu hari Senin (08 Oktober 2018) kemarin. Susah, karena memang tidak memiliki link untuk keberangkatan itu, banyak masyarakat yang sedang antri tapi tak menghasilkan apa-apa, bahkan ada yang mendirikan tenda disekitaran Landasan Udara Militer hingga berhari-hari tanpa kepastian apakah diberangkatkan atau tidak.

Kami pun pulang dengan perasaan sedikit pesimis. Berusaha lagi untuk berburu informasi, ternyata pada hari itu baik dari jalur darat, laut, dan udara sudah beroperasi untuk akses pulang ke tanah Kaili, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan jalur darat yaitu bus walaupun 24 jam perjalanan, yang sempat jadi perdebatan kecil di antara kami. Tak terelak lagi, yang tadinya kami hanya bisa memantau lewat smartphone dan TV mengenai situasi akses untuk tembus ke Kota Palu, akhirnya benar-benar kami yang menjadi bagian dari cerita itu.

Selama perjalanan, perasaan ini tidak begitu baik.

Kadang senang karena bisa pulang tapi juga was-was. Pasalnya, jalanan yang kami lalui masih menjadi tanda tanya, “apakah akan berjalan mulus atau sebaliknya?” Dan bukan hanya kami, semua orang dalam bus merasakan hal yang sama. Ada beberapa relawan dari luar kota yang ikut serta di bus ini.

…Donggala, akhirnya 1 jam perjalanan lagi kami akan masuk Kota Palu, yang sebelum itu mau dengan tidak mau harus melewat Kab. Donggala karena perjalanan yang ditempus bus melewati Sulawesi Barat (Mamuju).

Mejelang sholat isya, semua orang tertuju pada pemandangan menyayat hati di balik jendela bus, jalan yang kami lewati adalah jelas bekas tsunami,

masih kotor dan bau anyir,

dan beberapa titik jalan yang masih belum kondusif untuk dilewati kendaraan beroda empat apalagi ukuran bus. Keuletan bapak supir dalam mengemudi membuat hati para penumpang sedikit lebih tenang.

Tenda-tenda pengungsi di sepanjang jalan, sepertinya ada tenda umum dan ada juga tenda keluarga. Poster-poster posko di setiap sisi tenda yang seakan-akan memanggil para relawan untuk berkunjung yang menandakan mereka butuh bantuan. Remang-remang yang terlihat, karena aliran listrik belum begitu merata, kecuali tenda tertentu yang lampunya menyala tandanya memiliki mesin genset.

Rumah-rumah warga di samping kiri kanan jalan jangan ditanya lagi, habis tak bersisa, karena dibibir jalan sudah dekat dengan air laut. Kami juga menyaksikan masih ada kebakaran-kebakaran kecil di sudut jalan, ada juga api yang muncul dari puing-puing rumah yang hancur.

Yang paling mengejutkan, sekitar 8 Masjid yang kami lalui di sisi-sisi jalan tidak menampakkan tanda-tanda bencana, dari jumlah itu ada beberapa yang sangat dekat dengan pantai tapi tetap berdiri kokoh, jangankan roboh, cat dinding masjid-masjid itu pasca tsunami tidak memudar. Allah benar-benar menunjukkan Kuasa-Nya. Padahal perumahan di kiri kanan masjid roboh tak tanggung-tanggung.

Terlihat ada beberapa keluarga yang memilih tetap menempati rumah mereka yang termasuk kategori rusak sedang, tapi sebagian besar warga memilih mengungsi ke tempat tertentu yang dirasa aman karena trauma masih menghantam jiwa mereka. Terbukti di sepanjang jalan ini orang-orang malah ramai duduk diluar rumah bahkan dipinggir jalan, mereka dengan kondisi jaga-jaga apabila ada gempa susulan lagi.

Selepas Kab. Donggala, kami mulai masuk di Kota Palu, sangat menyedihkan.

Bangunan-bangunan di sepanjang jalan di pinggir pantai hampir tak dikenal hingga tak berjejak lagi,

berhubung air sedang pasang, jadi bus mau tidak mau harus melewati jalanan yang berair dikarenakan tidak ada lagi pembatas antara laut dan jalan raya, terhempas karena tsunami.

Perjalanan menuju posko Peneleh di Jl.Ramba 1, Dewi Sartika, sangat sepi. Diperkirakan sekitar 70% masyarakat sudah meninggalkan kota ini untuk sekedar menenangkan diri atau bisa jadi tidak akan kembali karena tak bertempat tinggal lagi. Karena semakin sepinya, yang tadinya jalan hanya satu arah, ternyata sudah 5 hari dibuat menjadi 2 arah. Kiri-kanan sudut kota hanya terlihat orang-orang berseragam dengan senjata lengkap, ada juga relawan-relawan dari kota lain bahkan negara lain yang sudi dengan keikhlasan hati membantu kota ini.

/ Agenda, Essay

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *