Menjelang 101 Tahun Zelfbestuur: 17 Juni 1916-2017

18083518_120300003291856611_85909396_o

Menjelang 101 Tahun Zelfbestuur: 17 Juni 1916-2017

Zelfbestuur, atau pemerintahan sendiri dalam bahasa Belanda, merupakan kata yang digunakan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, dalam mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia bersamaan pada acara Kongres Nasional Pertama Centraal Sarekat Islam (CSI) tanggal 17-24 Juni 1916 di Bandung. Gedung Pertemuan Concordia (sekarang disebut Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika), kota Bandung, di hadapan utusan resmi perwakilan 80 Cabang Sarekat Islam, suasana gedung sunyi tanpa suara terdengar sedikitpun.

Seluruh hadirin terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Semua terpukau, tergelorakan semangatnya, mengikuti alunan lantang kata demi kata, kalimat demi kalimat, laki-laki tersebut. Kalimat berapi-api, menggema mengisi seluruh ruangan, menerobos gendang- gendang telinga yang hadir di situ:

Meskipun jiwa kita penuh dengan harapan dan keinginan yang besar, kita tidak pernah bermimpi tentang datangnya Ratu Adil. Atau kejadian yang bukan-bukan, yang kenyataan tidak pernah terjadi. Tapi kita akan terus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur akan datangnya status berdiri sendiri bagi Hindia Belanda… Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan Zelfbestuur atau Pemerintahan Sendiriā€¦

Itulah cuplikan pidato HOS Tjokroaminoto, pada acara pembukaan Kongres, tanggal 17 Juni 1916 di Bandung. HOS Tjokroaminoto atau Pak Tjokro merupakan representasi tokoh yang pertama kali mendengungkan secara terbuka ide Pemerintahan Sendiri, sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional.

Peristiwa yang takkan terlupakan sepanjang sejarah nasional kita, Indonesia, empat hari rangkaian Kongres Nasional Pertama organisasi terbesar masa itu. Suasana Kongres sangat meriah. Di samping Rapat Akbar, acara Kongres juga dilaksanakan agenda Pawai keliling titik-titik keramaian kota Bandung, Pesta Rakyat dan Kegiatan Kongres Central Sarekat Islam, dihadiri ratusan utusan dari 80 Cabang/ Afdeling SI yang mewakili 360.000 anggota, dari total 800.000 anggota. SI di bawah Pak Tjokro bukanlah gerakan biasa, tetapi merupakan Gerakan Raksasa! Dibandingkan dengan organisasi lain yang juga dianggap sebagai representasi gerakan priyayi di Jawa saat itu seperti Boedi Oetomo misalnya, tahun 1909 hanya mempunyai anggota 10.000 orang. Partai Komunis Indonesia sampai dengan 1938 hanya memiliki anggota mencapai 250.000 orang.

Penyadaran Zelfbestuur menuju Bangsa Merdeka yang didorong Pak Tjokro lewat SI memang tak terhindarkan. Salah satu indikator banyaknya masyarakat atau rakyat yang mulai sadar akan nasib dan masa depan dirinya serta keinginan bebas dari kuasa asing, Belanda, di negeri sendiri, dapat dilihat dari makin meningkatnya keanggotaan dan pembukaan cabang-cabang baru SI di daerah-daerah. Sebagai perbandingan, pada bulan Juni tahun 1912 SI baru memiliki 2000 anggota, melonjak drastis menjadi 35.000 pada bulan Agustus dan mencapai 40.000 pada bulan Desember.
Hanya dalam waktu 7 tahun sejak Pak Tjokro tahun 1912 ikut terlibat SI, mulai Kongres SI Pertama di Surabaya (sebelum CSI), dari hanya 2000 anggota, meningkat 80.000 pada acara Rapat Terbuka (Vergadering) di Surabaya 26 Januari 1913, melonjak menjadi 200.000 pada Kongres di Surakarta tanggal 23 Maret 1913, 440.000 pada tahun 1914 ketika diadakan Kongres di Yogyakarta. Tahun 1916 pada saat Kongres Nasional Pertama di Bandung anggota SI mencapai 800.000. Puncaknya adalah 2.500.000 anggota tahun 1919 bertepatan acara Kongres Nasional CSI Keempat.

Sebagai salah satu peristiwa bersejarah, Zelfbestuur juga dikatakan sebagai representasi tonggak budaya penting Indonesia, terutama pesan bagi masa depan kemudian yang mendorong tokoh-tokoh generasi kedua Sejarah Indonesia Modern untuk makin menguatkan pentingnya isu kemerdekaan, pembebasan diri dari kekuasaan asing ratusan tahun. Puncaknya adalah tanggal 17 Agustus 1945, ketika murid organis ideologis Pak Cokro, Soekarno melakukan Proklamasi Formal berdirinya Republik Indonesia.

Referensi: Mulawarman, AD. 2015. Jang Oetama: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto. Penerbit Galang Press kerjasama dengan Yayasan Rumah Peneleh. Jogjakarta – Jakarta.

/ Opini / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish