Masyarakat Kita Sedang Sakit

dialog-kebangsaan-jenderal-soedirman-sudirman

Masyarakat Kita Sedang Sakit

dialog-kebangsaan-jenderal-soedirman-sudirman

RumahPeneleh.or.id, Malang – Minggu 4 Oktober 2015 kemarin, Pusat Studi Pemikiran Islam di Nusantara (PUSPIN) mengadakan Refleksi Kebudayaan di Sekretariat Rumah Peneleh, Jalan Bogor 1 Kota Malang. Refleksi dalam bentuk dialog publik yang dimulai jam 9 malam itu merupakan kegiatan rutin PUSPIN Jatim yang diketuai oleh Didik Supriyanto (Cak To).

Hadir sebagai pembicara pada Refleksi Kebudayaan bertajuk Ketahanan dan Pertahanan Nasional – Berguru Pada Jenderal Soedirman tersebut antara lain Dr. Sutoyo (Pakar Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang), Faried Cahyono (Aliansi Jurnalis Independen), dan Cak Adil Amrullah (Maiyah ReLegi Malang).

Dr. Sutoyo mengawali acara malam itu dengan memberikan pengantar tentang sejarah Jenderal Soedirman, Jenderal Soedirman memiliki keuletan yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pak Dirman (Jenderal Soedirman) adalah sosok karismatik yang mampu memompa semangat pasukannya untuk tetap kuat dalam peperangan dalam kondisi apapun.

Tokoh Jenderal Soedirman dalam kaitannya dengan perkembangan Tentara Nasional Indonesia dikupas lebih dalam oleh Faried Cahyono. Sebagai seorang jurnalis dan pengamat pertahanan keamanan nasional, Faried memaparkan bahwa sosok Jenderal Soedirman dari segi teknik kemiliteran sebenarnya tidak terlalu istimewa, apalagi di masa itu ilmu kemiliteran yang diterapkan oleh laskar-laskar pejuang di Indonesia tidak seberapa dibanding musuh, serta cenderung tradisional, sedangkan Pak Dirman sendiri mendapatkan secuil ilmu kemiliteran dari Jepang semasa masih menjadi tentara PETA, yang tentunya tak sehebat strategi perwira-perwira Belanda.

Sebagai catatan Faried jika mengkaji tentang sosok Pak Dirman, sebagai sosok yang lahir dan besar dari lingkungan yang sangat agamis, Pak Dirman selalu menyempatkan diri untuk shalat malam selama tinggal di Yogyakarta, ini menguatkan kita bahwa Pak Dirman adalah sosok yang sangat agamis, sebagai Muslim yang taat, kekuatan beliau bukan hanya pada akal dan tindakan semata, tapi juga atas kekuatan spritual, spirit Keislaman. Catatan ini didapat langsung dari pengakuan marbot (penjaga) Masjid Kauman Yogyakarta, dimana saat itu Faried Cahyono semasa masih menjadi jurnalis di Yogyakarta pernah mewawancarai marbot masjid tersebut. Kisah ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa sebaik apapun yang kita lakukan harus selalu berlandaskan pada rohani, bukan hanya kekuatan materiil saja.

Sedangkan tentang perkembangan TNI sepeninggal Jenderal Soedirman, lebih lanjut Faried mengatakan bahwa perkembangan militer di Indonesia sangat erat dengan kekuasaan politik, terutama saat rezim Orde Baru, dimana saat itu militer menjelma sebagai mesin politik pendukung kekuasaan rezim. Pada masa Orde Baru para elit militer bergelimang fasilitas, jabatan, juga pundi-pundi kekuasaan, tak hanya di legislatif bahkan juga di perusahaan-perusahaan milik pemerintah dimana banyak yang menjadi petingginya adalah purnawirawan elit militer, sehingga tak heran jika beberapa konflik yang terjadi antara militer dan kepolisian adalah efek bergulir “perang jatah” para elitnya, juga soal kesejahteraan anggota-anggota di bawahnya.

Faried Cahyono juga sedikit menyinggung tentang intelijen kita, dimana pengaruh Orde Baru yang luar biasa di dalam tubuh militer intelijen menjadikannya alat untuk mengawasi potensi gerakan makar dari dalam negeri, itu yang seharusnya diubah sekarang ini, intelijen seharusnya diarahkan untuk mengawal pertahanan dari luar, apalagi jika melihat penetrasi asing akhir-akhir ini yang dikuatirkan akan menggerus nilai-nilai di masyarakat.

Suasana menjadi lebih hangat saat Cak Adil Amrullah mengeluarkan gagasannya kepada para peserta refleksi kebudayaan, sebagai seorang budayawan asal Jombang yang sempat berprofesi sebagai wartawan di Yogyakarta, beliau pernah menggali kisah Jenderal Soedirman dari Bu Alfiah, istri Jenderal Soedirman yang menetap di Yogyakarta. Dari Bu Alfiah itu Cak Adil mengatakan bahwa banyak sebenarnya yang bisa kita pelajari dari sosok Jenderal Soedirman selain dunia militer itu sendiri, tentang keuletan, keikhlasan, tepa selira, juga jiwa Keislaman beliau yang luar biasa, tak heran jika kesederhanaan Pak Dirman begitu melekat di masyarakat, tegas dalam bingkai kelembutan menjadikannya sosok yang dielu-elukan rakyat.

Cak Adil juga sempat mencibir sebagian masyarakat kita sekarang yang gila jabatan, bahkan beliau mengatakan masyarakat kita sekarang sedang “sakit”. Sakit mentalnya, sakit jiwanya, sakit kepribadiannya. Sangat bertolakbelakang dengan figur Jenderal Soedirman yang sederhana, berangkat dari orang biasa, tak pernah gila jabatan, gelar, dan bertahan dengan identitas “blangkon” di kepalanya.

Di sela acara kemarin, rekan-rekan komunitas meluncurkan GERAM PENAKU (Gerakan Menanam Pohon Menabung Buku) yang diinisisasi oleh beberapa komunitas dan insitusi di Malang seperti Teras Ilmu, Komunitas Ongis Nade, Lentera Negeri, juga Rumah Peneleh. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk menanam pohon dan menyebarkan buku di Bumi Arema, bibit pohon akan ditanam di hutan kota, pinggir jalan dan tempat lain, sedangkan buku akan disumbangkan ke taman-taman baca di Malang yang masih membutuhkan.

Masyarakat, mahasiswa, aktivis yang ingin berpartisipasi pada kegiatan ini bisa mengumpulkan sumbangan bibit pohon ataupun buku bekas layak baca di Sekretariat Rumah Peneleh, Jalan Bogor 1 Kota Malang. Momentum GERAM PENAKU sendiri akan diselenggarakan pada 28 November 2015 bertepatan dengan hari Menanam Pohon Nasional, dimana seluruh bibit pohon dan buku yang terkumpul akan ditanam dan disebarkan bersama oleh para relawan di area-area Malang Raya.

Acara malam itu terlihat hidup meskipun yang datang hanya sedikit, paling tidak yang sedikit itu adalah yang benar-benar ingin datang dan mengkaji Kebudayaan di Nusantara. Barangkali jika diambil benang merahnya dari gerilya yang dilakukan Jenderal Soedirman dulu, saat ini yang bisa kita lakukan untuk menggali Kebudayaan Nusantara sebagai penguat identitas bangsa, sekaligus proses revitalisasi karakter bangsa adalah dengan melakukan Gerilya-Gerilya Kebudayaan sebagai kekuatan terakhir ketahanan kita, salah satunya dengan aktifitas diskusi atau refleksi seperti ini.[]

dialog-kebangsaan-jenderal-soedirman-sudirman-malang

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish