Maiyah Relegi, Komunitas Fans Emha Ainun Najib

maiyahan-cak-nun-relegi-malang-aji-dedi-mulawarman-hos-tjokroaminoto-maiyah

Maiyah Relegi, Komunitas Fans Emha Ainun Najib

maiyahan-cak-nun-relegi-malang-aji-dedi-mulawarman-hos-tjokroaminoto-maiyah

Radarmalang.co.id, Malang – Puluhan jamaah terlihat duduk melingkar untuk berdiskusi di Masjid An-Nur Politeknik Negeri Malang, Rabu malam (1/7). Mereka adalah komunitas Maiyah Relegi. Sesuai namanya, mereka berkumpul setiap selapan sekali (per 35 hari), tepatnya pada Rebu Legi (Relegi).

Komunitas yang angggotanya kerap disebut jamaah ini tidak benar-benar bergerak secara institutif sebagai kelompok eksklusif tertentu. Jamaah ini secara rutin berkumpul dalam forum bersama Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Acara yang digelar bisa dibilang semacam pengajian. Namun tema yang dibahas tak melulu agama, tapi juga beragam tema mulai politik, hukum dan berbagai hal yang sedang marak.

Suasana kritis terbangun dengan dihadirkannya tokoh, pemikir, aktivis, pemilik kebijakan, akademisi, dan lain-lain setiap edisinya. Secara tampilan pun tak seperti pengajian, selain menghadirkan kelompok al-banjari dari berbagai penjuru Malang, jamaah Maiyah juga kerap menghadirkan seniman dalam acaranya di antaranya musik dan teater.

Maiyah lahir pada malam menjelang akan digelarnya Sidang Istimewa MPR 2001, tepatnya pada tanggal 31 Juli 2001. Saat itu suhu politik nasional sedang memanas, Cak Nun secara khusus menggelar acara Sholawatan Maulid bersama Kiai Kanjeng untuk menyikapi situasi politik yang semakin tidak menentu. Pendekatan dengan nama Jamaah Maiyah lebih bertujuan sebagai bentukan kebersamaan meraih semangat bertahan hidup bahwa Allah berada pada setiap napas kehidupan.

Di Malang sendiri, Jamaah Maiyah pertama kali menggelar pertemuan pada 6 Juni 2012. Menggunakan identitas Relegi, yang merupakan singkatan dari Rebo Legi yakni weton Cak Nun, Jamaah Maiyah Malang rutin menggelar pertemuan seperti di kota-kota lain. Di antaranya Bangbang Wetan di Surabaya, Kenduri Cinta di Jakarta, dan juga Padhangmbulan di Jombang. Meski tak selalu dihadiri tokoh sentral Jamaah Maiyah, namun Jamaah Maiyah Relegi memiliki keistimewaan tersendiri. Sebab kakak sulung Cak Nun, Drs Ahmad Fuad Effendy MA (dosen Jurusan Bahasa Arab sekaligus mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) periode 1997-2001) selalu menyempatkan diri hadir jika tidak sedang bertugas di luar kota.

Seperti Rabu (1/7) malam lalu, Cak Fuad –sapaan akrab Drs Ahmad Fuad Effendy MA yang awal Ramadan lalu berkunjung ke tiga negara di Timur Tengah –Tunisia, Mesir, dan Sudan selama 15 hari, hadir dan berbagi pengalaman. “Di tiga negara itu Islam satu, meski penerapan berbeda-beda,” ungkap Cak Fuad.

Bukan hanya perbedaan budaya, tetapi hingga menyentuh ranah teologi dan juga ritual.

Misalnya di Sudan, masyarakat Islam banyak mencerminkan aliran tasawuf tarikat. Sementara di Tunisia lebih pada tasawuf akhlak. Untuk ritual meski sama-sama mengikuti Imam Maliki namun saat salat, di Sudan jamaah menyedekapkan tangan sementara di Tunisia hampir semua tidak menyedekapkan tangan. “Kalau di Indonesia, masalah sendakep di dada atau di perut saja sudah jadi bahasan yang tak habis-habis,” candanya.

Contoh lain adalah penerapan anjuran beramal salih, infaq dengan memberi makan bagi orang yang berpuasa. Di Tunisia, alun-alun kotanya penuh dengan kios-kios milik individu yang masing-masing menyediakan makanan berbuka dan diperuntukkan bagi siapa saja yang mau mengambil. Sementara di Sudan, setiap rumah menyediakan sebuah meja di halamannya. “Orang yang lewat saat adzan maghrib langsung berhenti, di mana saja dipersilahkan untuk makan dan berbuka. Di jalan-jalan aktivitas terhenti dan semua orang berbuka bersama,” papar Fuad.

Dia menekankan, selama umat Islam masih terikat oleh syahadat maka di mana pun dengan budaya dan ritual yang berbeda pun sesungguhnya masih satu. “Intinya di Lailaha Ilallah, Muhammadar Rasulullah,” tandas dia.

Selain Cak Fuad, hadir pula Dr Aji Dedi Mulawarman, pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB). Meski latar belakang pendidikannya ekonomi, bisnis, dan akutansi, malam itu Aji menguraikan tentang HOS Tjokroaminoto, salah satu Bapak Bangsa Indonesia. “Setelah bertahun-tahun bergelut dengan pencarian jejak Pak Tjokro, akhirnya utuhan tulisan sejarah dan pemikiran beliau terangkum dalam buku yang berjudul Jang Oetama: Jejak Hos Tjokroaminoto,” terang dia.

Aji membeberkan bahwa selain pendiri Sarekat Islam (SI), HOS Tjokroaminoto telah menginspirasi banyak pergerakan-pergerakan bangsa dalam membangun bumi pertiwi. “Beliau menanggalkan simbol priyayi, pangkat, dan zona nyaman. Memilih menjadi bagian pergerakan sebagai kaum kebanyakan sekaligus melakukan penyadaran Nusantara, yaitu pemerintahan yang membawa nasionalisme,” papar dia. Dimoderatori oleh Cak Yogi, salah satu penggiat Jamaah Maiyah Relegi, diskusi berlangsung mulai Rabu (1/7) pukul 21.00 hingga Kamis (2/7) dini hari.[]

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish