Kuasa dan Hasrat Skizofrenik

aji-dedi-mulawarman-opini-pilkada-jakarta

Kuasa dan Hasrat Skizofrenik

Oleh: A. Dedi Mulawarman*

 

Kuasa memang menarik, kuasa adalah hasrat, maka kuasa tanpa hasrat adalah kuasa tanpa libido. Jadilah manusia penuh hasrat berkuasa kata Deleuze dan Guttari, menempuh melalui Skizofrenik Hasrat. Sepertinya simbol-simbol kuasa dalam pilkada, terutama Pilkada DKI yang seakan menjadi narasi besar dari pilkada lain di negeri ini adalah ruang bagi berkembangnya penyakit psikis kemanusiaan posmodern. Sepertinya tidak bisa dan tidak berlaku lagi itu ruang kuasa untuk kehancuran narasi besar melalui narasi-narasi baru. Karena di Pilkada DKI sendiri adalah hasrat skizofrenik yang juga telah menjadi viral. Dunia tak lagi sebagaimana tatanan posmodern pula.

Ya, memang semua yang sedang bermain di kancah pilkada, simbol maksimalisasi hasrat untuk kemenangan dalam ruang dan waktu harus berpusat pada jati diri subyek bermental dan berhasrat Skizofrenik. Manusia harus masuk dalam kondisi imanen “Skizo”, bergerak terus menerus tak henti, bahkan melampaui sejarah dan rasionalisasi. Skizofrenia tanpa identitas, istilah Foucault, sebagai seni non-fasis. Skizo sebagai subyek yang tak mudah ditaklukan oleh rantai imajiner maupun simbolik ciptaan “kekuasaan”. Subyek otentik tanpa teritori, ia selalu menjadi dan terus menjadi tanpa titik akhir narasi.

Hasrat akan menjadi realitas tanpa batas bahkan kebohongan para calon penguasa lokal lewat pilkada adalah kebenaran itu sendiri. Penjarahan di ruang dan waktu historis yang tidak terjadi di DKI misalnya, tetapi terjadi di wilayah nusantara lainnya cukup dibersihkan melalui status, wajah lugu dan tebar pesona lewat “uang yang terhalalkan” menjadi sangat dimungkinkan. Kemanusiaan tak penting lagi, moralitas tak penting lagi, apalagi ideologi lebih tak penting lagi. Ya, karena ideologi sebagaimana agama adalah narasi besar yang membelenggu dunia modern.

Jadi munculkan kuasa diri saja, karena paralogi sebagai antitesis ideologi itu sendiri, sebuah simbol baru dari “logi” yang tak terkungkung pada satu logi besar (ideologi), mau di mana saja atas nama apa saja, selama dapat mengubur narasi besar. Maka narasi baru bahkan bila perlu mengimanen, menjadi realitas paralogi, dalam diri sangat benar harus terjadi, dan menjadi icon. Pointernya adalah, yang penting hasrat, lebih bagus lagi hasrat berkuasa.

Jadi siapapun wajib menjadi diri berhasratkan skizofrenik dan dengan demikian kuasa adalah kemungkinan sejarah tanpa ideologi, tanpa narasi besar. Yang penting, silakan berbelok ke mana saja, selama hasrat terhadirkan secara nyata, kemenangan wajib diraih…

Anda mau begitu?… Maka benarlah kata Qur’an ketika manusia telah terjebak dunia permainan, maka hasrat adalah realitas tanpa batas yang harus ditempuh melalui kuasa. Kalau perlu ruh 212 yang melampaui hasrat pilkada, 212 yang sejatinya adalah panggilan langit untuk perubahan negeri, ternyata harus tergadaikan oleh banyak tikungan tajam, pemburu kuasa berhasrat skizofrenik. Istighfar yuk…

Singosari, 15 Januari 2017

*) Penulis adalah Ketua Yayasan Rumah Peneleh, Dosen tetap Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya.

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish