Kontribusi Mahasiswa Melalui Studi Komparatif Wilayah Sebagai Upaya Optimalisasi Potensi Lokal dan Pemberdayaan Kaum Marjinal

Kontribusi Mahasiswa Melalui Studi Komparatif Wilayah Sebagai Upaya Optimalisasi Potensi Lokal dan Pemberdayaan Kaum Marjinal

Oleh Yonatan Yulius Anggara*, Universitas Negeri Surabaya

Kaum marjinal adalah sebuah gelar yang sudah tak asing lagi di Indonesia. Tragedi keberadaan kaum marjinal seolah menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti, kemanapun dan dimanapun. Masyarakat marginal dikategorikan sebagai masyarakat  yang terpinggirkan dan identik dengan kemiskinan . Biarpun telah banyak program yang dilakukan oleh pemerintah namun masyarakat marginal tetap hidup dalam keadaan serba kekurangan. (Endicott dan Dentan 2004; Nicholas 1999). Hal tersebut tentunya sangat tidak cocok dengan keadaan Sumber Daya Alam (SDA) Negara Indonesia yang sangat melimpah. Saat ini, pemanfatan SDA belum merata dan hanya dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Eksploitasi SDA secara tidak merata tersebut mengakibatkan  adanya ketimpangan ekonomi dalam tatanan masyarakat. Hal itu diperkuat dengan data hasil survei  Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD) yang mencatat peringkat ketimpangan ekonomi Indonesia berada di posisi enam terburuk di dunia. Ketimpangan antara si kaya dan si kaum marjinal yang sangat jauh merupakan sebuah musibah besar bagi Indonesia. Kaum marjinal era saat ini semakin membludak, lengkap dengan permasalahan-permasalahanya. Jika terus dibiarkan, kondisi seperti ini akan merugikan banyak pihak. Kaum marjinal karena faktor ekonomi yang bisa saja melakukan berbagai hal untuk mendapatkan tambahan ekonomi baik cara itu baik atau tiadak, entah cara tersebut merugikan orang lain atau tidak. Seperti yang dikatakan Francis Fukuyama (2004) yang mengatakan jika  kemiskinan merupakan penyumbang terbesar terjadinya guncangan sosial (great disruption) di berbagai negara. Kaum marjinal bukanlah penjahat, tapi sangat berpotensial untuk menjadi pejahat. Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan adanya kejahatan pencurian susu formula di supermarket hanya karena pencuri tersebut tidak punya cukup uang untuk membeli susu untuk anaknya yang masih balita. Pertanyaanya adalah hingga kapan masalah kemiskinan ini akan terus berlangsung?  Maka keadaan tersebut adalah tanggung jawab bersama, kaum marjinal sudah sepantasnya mendapat perhatian untuk menjadikan Indonesia lebih baik.

Umumnya keadaan kaum marjinal sangat nampak terlihat pada daerah perdesaan. Kaum marjinal semakin terpinggirkan dari aspek apapun, baik pendidikan, sosial hingga ekonomi. Jika ditinjau dari potensial sumber daya alam, kondisi perdesaan di Indonesia tidak seharusnya memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Sayangnya potensi tersebut belum bisa dimaksimalkan karena umumnya antar desa di Indonesia  masih saling berebut pasar. Artinya antara satu desa dan desa lainya mengedepankan prinsip kompetisi bukan kerjasama. Bnyak dari masyarakat antar desa yang menjual komoditas yang sama dengan alasan akan lebih laku dipasaran. Hal itu adalah sebuah kesalahan berpikir dari masyarakat. Sudah saatnya pemanfaatan potensi lokal harus ditingkatkan. Setiap desa harus memiliki komoditas andalan, entah dalam bidang pariwisata, pertanian, makanan, atau jasa. Potensi lokal dapat diketahui salah satunya dengan studi komparatif wilayah.  Menurut Nazir (2005) dalam Lestari (2013), studi komparatif adalah sejenis studi deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Studi  komparatif memiliki sifat  membandingkan. Studi ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang di pelajari berdasarkan kerangka pemikiran tertentu. Pada studi ini variabelnya masih mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda.

Disinilah seharusnya mahasiswa bisa mengambil peran penting tersebut. “Beri aku 10 pemuda (mahasiswa) akan kugoncangkan dunia,” itulah sepenggal pidato Soekarno, founding father bangsa ini, yang mengisyaratkan begitu penting peran pemuda dalam mengubah kehidupan bangsa ini. Mahasiswa adalah orang yang memiliki fisik maupun pemikiran yang masih prima. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu.. Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar.

Mahasiswa memiliki peranan penting dalam menyelesaikan masalah dalam masyarakat.. Mahasiswa yang sebenar-benarnya adalah mahasiswa yang tidak sekedar memikirkan kepentingan pribadi semata. Namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dan kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat. Pribadi yang diharapkan dalam hal ini adalah pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya serta menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara..

Fungsi agent of social change yang melekat pada jati diri mahasiswa pada saat ini, hendaklah bukan sebatas slogan-slogan saja. Namun suatu pemikiran yang yang rekonstruktif dan solutif terhadap permasalahan ekonomi. Sebagai mahasiswa ada beberapa perannya seperti yang dikemukakan oleh Isjoni. Ada dua peran pemuda  dalam meningkatkan mutu ekonomi  dalam hal ini pemberdayaan masyarakat marjinal melalui studi komparatif wilayah  yakni: (1) berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia dimana ia belajar (kampus) menuju lingkungan masyarakat  dalam upaya pemberdayaan berbagai kalangan terutama kalangan menengah ke bawah; (2) sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk kaum marjinal.

Mahasiswa merupakan aset yang akan menentukan bagaimana kondisi negara ini nantinya, apakah akan tetap berada dalam keterpurukan ekonomi dengan kaum marjinal yang selalu tertindas ataukah menjadi negara yang penduduknya aman, tentram dan sejahtera. Jika kita tengok kembali sejarah perjalanan bangsa Indonesia dulu, gerakan mahasiswa memiliki andil besar dalam peristiwa sumpah pemuda 1928, gerakan- gerakan menuju kemerdekaan 1945, lahirnya Orde Baru tahun 1966 dan Reformasi tahun 1998. Kini di tengah zaman dimana terkikisnya berbagai aspek pada bangsa kita, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang berat untuk memantapkan jati dirinya sebagai agen perubahan, sebagai generasi penerus yang akan menyampaikan nilai-nilai dan menyebarkan kebaikan pada masyarakat pembela kaum kaum tertindas.

Potensi lokal perdesaan saat ini belum dioptimalkan secara baik. Hanya beberapa desa saja yang memiliki komditas andalan, hal itu membuat persaiangan mencari pasar terus terjadi. Prinsip-prinsip pengoptimalan potensi lokal belum dapat dilakukan. Perlu adanya peran mahasiswa disini dengan studi komparatif wilayah Untuk kemudian memetakan potensi lokal setiap desa yang tentunya memiliki perbedaan.            Sebelum memenuhi perannya di masa yang akan datang sebagai generasi penerus bangsa, apa usaha nyata yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk mengatasi masalah kemiskinan dan ketertindasan kaum marjinal ? Usaha yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Menyadari Pentingnya pengoptimalan potensi lokal secara bersama

Kesadaran merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Ketika adanya kesadaran seseorang bahwa membaca itu penting, maka ia berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya jika kesadaran itu tidak ada, maka tidak akan pernah memiliki motivasi ingin tahu. Kesadaran pengoptimalan potensi lokal akan lebih membuat sistematis pola ekonomi khususnya di daerah perdesaan. Apalagi jika hal tersebut didukung dengan adanya kebersamaan dan tujuan yang sama, tentu kepentingan pribadi perseorangan dapat dihinadari. Kesadaran adalah modal pertama dalam melakukan apapun, termasuk dalam hal ini terkait potensi wilayah.

  1. Melakukan studi Komparatif wilayah dan melakukan pemetaan potensi lokal

Menurut Nazir (2005: 58) studi komparatif adalah studi yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Pengkajian studi komparatif di perdesaan dapat dilakukan pada setiap desa yang ada. Tujuanya adalah mengetahui potensi lokal khasnya. Setelah melakukan studi komparatif maka dilakukan pemetaan potensi lokal. Hal ini difungsikan agar satu desa dengan dsa lainya tidak memiliki komoditas andalan dan potensi lokal yang sama. Dengan begitu tidak ada sistem berkompetesi di dalam pasar, yang ada adalah pola kerjasama anatar elemen masyarakat. Sebagai contoh pemetaan potensi lokal adalah Desa A yang berpotensi sebagai penghasil sumber air. Desa B yang berpotensi menjadi penghasil komoditas padi. Desa C yang berpotensi sebagai penghasil kayu jati. Pemetaan tersebut berfungsi sebagai sarana agar semua desa meningkat perekonomianya tanpa saling berfokus pada satu komoditas saja.

  1. Menjadi Manajemen publikasi

Publikasi adalah salah satu hal vital yang harus ada dalam sistem personal branding. Dahulu publikasi hanya melalui media sangat sederhana yaitu ucapan dari mulut ke mulut kemudian berubah lagi menjadi publikasi media cetak. Berkmbangnya zaman mempengaruhi setrategi dalam melakukan publikasi. Pada zaman saat ini publikasi yang tepat adalah melalui internet atau lebih akrab disapa online marketing. Sayangnya potensi lokal pada desa desa di kecamatan Ponjong belum bisa terekspos karena masyarakat masih belum banyak yang menggunakan teknologi internet dalam melakukan publikasi. Maka mahasiswa yang seharusnya menjadi ujungtombak publikasi, mengingat saat ini mhasiswa tengah berada di zaman teknologi. Mahasiwa  yang lebih paham mengenai teknologi. Adanya teknologi Internet ini tentunya sangat membantu dalam pelaksanaan publikasi potensi lokal setiap desa sehingga diketahui  masyarakat luas, dalam sekala lokal, nasional maupun internasional.

  1. Melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah

Mahasiswa peka terhadap kebijakan pemerintah dan mengajukan suatu pendapat dan saran sebagai solusi untuk melakukan penyelesaian masalah ekonomi. Pemerintah merupakan garda depan  bagi kelangsungan ekonomi masyarakat. Kebijakan pemerintah sangat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai pembuat kebijakan yang melihat sudut pandang yang luas terkadang pemerintah membuat kebijakan yang kurang tepat sehingga menrugikan kaum-kaum tertentu. Peran mahasiswa disini sangat diperlukan. Ketika masyarakat yang memiliki keterbatasan fasilitas dan akses maka sudah sepantasnya pemuda mengambil peran itu, menyadi pengawal kebijakan pemerintah sehingga tidak akan merugikan siapapun, termasuk kaum marjinal sekalipun.

Dengan mengaca dari pemaparan diatas, diharapkan mahasiswa mampu mengatasi masalah-masalah yang menimpa masyarakat. Selain itu melalui studi komparatif generasi muda mampu mengembangkan potensi lokal. Jika kaum marjinal dapat terberdayakan, potensi lokal dapat dioptimalkan maka akan timbul masyarakat yang damai. Masyarakat yang saling menolong, tidak ada ketimpangan yang berarti antara kaum kaya dan kaum marjinal. Semua nya saling tolong menolong dan saling bekerjasama dalam menuju tujuan yang sama. Kerjasama antar desa dapat ditingkatkan dan potensi lokalnya dapat dioptimalkan sehingga tidak ada desa yang tertinggal. Sudah saatnya pemuda berperan, menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat. Jika bukan sekarang kapan lagi, Jika bukan kita siapa lagi?

*Essay ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Sekolah Aktivis Peneleh 4

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Yogyakarta

Henry, Nicholas. 1989. Public Administration and Public Affairs. fourth edition. USA : Prentice-Hall. International Editions.

Ika Lestari. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Padang:Akademia Permata

Kuncoro Mudrajat. 2004. Otonomi dan Pembangunan daerah. Erlangga, Jakarta

/ Essay

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish