Khidmat Namun Menggelora, Refleksi 1 Abad Zelfbestuur di Rumah Tjokroaminoto

zelfbestuur-tjokroaminoto-cokroaminoto-peneleh-surabaya (2)

Khidmat Namun Menggelora, Refleksi 1 Abad Zelfbestuur di Rumah Tjokroaminoto

zelfbestuur-tjokroaminoto-cokroaminoto-peneleh-surabaya (2)

RumahPeneleh.or.id, Surabaya – Acara “Refleksi 1 Abad Zelfbestuur 1916-2016” yang berlangsung di Rumah HOS Tjokroaminoto, Jl. Peneleh VII/29-31 Surabaya semalam (16/06) berlangsung khidmat sekaligus menggelora.

Puluhan anak muda dari beragam institusi pendidikan dan organisasi berkumpul untuk berdiskusi dan merefleksikan kembali semangat Zelfbestuur yang dicetuskan HOS Tjokroaminoto 100 tahun lampau, 17 Juni 1916.

Zelfbestuur tak serta merta dicetuskan oleh Pak Tjokro begitu saja, di hadapan anggota Central Sarekat Islam Pak Tjokro menyerukan bahwa sudah saatnya bangsa ini merdeka, bukan di bawah bangsa lain. Saat itu rakyat Hindia Belanda begitu menderita, meskipun Politik Etis diterapkan di negeri ini namun bangsa ini hanya diibaratkan ‘sapi perah’ oleh Pak Tjokro.

Acara semalam dimoderasi oleh Aktivis Peneleh Angkatan I Ahmad Fauzi, kemudian dibuka oleh Dr. Aji Dedi Mulawarman Ketua Yayasan Rumah Peneleh dengan memberikan sedikit pengantar tentang Zelfbestuur.

“Refleksi adalah bentuk anchorage, tonggak sejarah bahwa bangsa ini diikat oleh kekuatan bersama, dan kita yang tinggal menikmati kemerdekaan ini yang harus terus melanjutkan cita-cita Tjokroaminoto, Soekarno dan para Founding Father negeri,” kata Aji Dedi pada sambutannya.

Aji juga melanjutkan, “Kitalah yang seharusnya menjadi pemimpin di negeri kita sendiri, bukan bangsa lain yang sekarang menjelma menjadi kekuatan neoliberal.”

Eko Hadiratno, Ketua RT 2 RW 4, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya yang berpuluh tahun menjaga dan merawat rumah tersebut juga memberikan sambutan kepada pemuda-pemudi yang hadir.

Dalam sambutannya Eko merasa terharu, dapat merasakan kembali aura ‘Dapur Nasionalisme’ sebagai gambaran bagaimana dulu rumah tersebut menjadi tempat berkumpul Tjokroaminoto dengan banyak tokoh dan murid-muridnya, untuk berdiskusi dan mengobarkan impian untuk merdeka.

Eko juga mengatakan,”Harusnya diskursus pemikiran Tjokroaminoto seperti ini digelar secara rutin terutama oleh anak-anak muda, seperti dulu Tjokroaminoto berdiskusi tiap malam di rumah ini dengan Soekarno muda, Kartosuwiryo, Musso, Semaoen dan banyak tokoh.”

“Tjokroaminoto menitipkan perjuangannya kepada Soekarno, murid sekaligus menantunya yang kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945,” tambahnya.

Acara yang dimulai pukul 21:00 WIB tersebut menjadi lebih hangat dengan penampilan monolog dari Meteor Rosada, yang juga Aktivis Peneleh Angkatan I.

zelfbestuur-tjokroaminoto-cokroaminoto-peneleh-surabaya (1)

Monolog berjudul “Kematian Yang Akrab” dibawakan aktivis yang akrab dipanggil Teo ini secara apik, sekaligus menjadi renungan bersama tentang fenomena negeri ini di mana banyak konflik pecah, pertentangan antar golongan, saling memangsa hanya untuk kepentingannya sendiri.

Hadir pada malam tadi Adrian Perkasa, akademisi Universitas Airlangga Surabaya yang menjadi pemantik diskusi. Sebagai seorang sejarawan Adrian juga banyak meneliti tentang kiprah Tjokroaminoto. Diakui oleh Eko Hadiratno penjaga rumah Pak Tjokro, bahwa Adrian juga sudah lama sering berdiskusi dengannya, terutama untuk menggali lagi pemikiran seorang HOS Tjoktoaminoto.

“Tjokroaminoto adalah seorang pemikir, budayawan sekaligus politikus yang revolusioner,” kata Adrian.

“Sebagai seorang pemikir, Islam dan Sosialisme yang dicetuskan oleh Tjokroaminoto mampu membawa roh Islam ke dalam sosialisme yang saat itu banyak dipuja oleh anak muda,” tambahnya.

Disebut luar biasa, bahkan melompati jamannya karena berpuluh tahun sejak Tjokroaminoto melontarkan diskursus Islam dan Sosialisme, baru kemudian muncul gerakan-gerakan Islam baru yang sebaliknya justru lebih sering diasosiasikan sebagai ‘Islam Kiri’.

Padahal Islam dan Sosialisme jauh bertentangan dengan sosialisme yang dicetuskan pemikir Barat. Sosialisme yang dilontarkan Tjokro bertolak belakang dengan Materialisme-Historis yang bersifat kebendaan.

Adrian juga melanjutkan, “Java Institute, wadah di mana Tjokroaminoto berkebudayaan merupakan tempat di mana diskursus kebudayaan menjadi begitu eksis. Meskipun Tjokro juga sempat dianggap antek kolonial karena Java Institute banyak diisi oleh orang Belanda.”

Banyak peserta bergantian bertanya maupun menyatakan pendapat tentang bagaimana saat ini kita memandang Zelfbestuur 1916. Rendra Bagas melontarkan pernyataan yang cukup menarik, tentang bagaimana seharusnya anak muda sekarang perlu mewujudkan komitmen bersama untuk mereaktualisasikan pemikiran Tjokro.

“Tjokroaminoto dengan Islam dan Sosialismenya membuktikan bagaimana kala itu pembumian Islam secara masif di masyarakat lewat pendekatan sosialisme sangat ampuh, untuk menggelorakan persatuan dan semangat kebangsaan,” kata Rendra Bagas.

Dalam sejarah hal itu memang terbukti dengan 2,5 juta pengikut Sarekat Islam, jumlah yang luar biasa saat itu dalam catatan sejarah dunia.

Rendra juga menyatakan pendapat tentang anak muda yang sudah saatnya menggelontorkan Neo Zelfbestuur untuk menggalang kekuatan bersama, kekuatan Islam harusnya didukung produktifitas Islam itu sendiri, penguatan ekonomi dibutuhkan dalam pembumian Islam. Sehingga kita tak mudah digoyah oleh Neoliberalisme yang merasuk pada hampir tiap elemen bangsa ini.

Sementara Abdurrahman, seorang peserta yang hadir melontarkan pendapat bahwa umat Islam khususnya di Indonesia harus memiliki lembaga keuangan yang mampu mengelola dana abadi untuk umat, tentunya secara amanah dan profesional.

Dr. Aji Dedi memberikan closing statement yang penting sebagai bahan renungan para pemuda yang hadir memenuhi ruangan.

“Nasionalisme, kebangsaan, Islam dan Sosialisme memuncak saat Tjokro menerbitkan buku Memeriksai Alam Kebenaran,” kata Aji Dedi.

Aji meneruskan, “Islam adalah landing, organisasi adalah alat politik, hal itu yang kemudian menginspirasi Soekarno dalam proses kelahiran Pancasila. Pancasila merupakan anak dari Islam, yang justru dihadapkan dengan kekuatan liberal yang masuk ke Indonesia saat itu.”

Karena itu Soekarno seringkali menyerukan bahwa Pancasila adalah kekuatan bangsa Indonesia, parahnya 1965-1998 Islam yang melahirkan Pancasila justru digerogoti oleh rezim, yang justru lebih berpihak pada liberalisme.

“Liberalisme melahirkan Neoliberalisme, yang merasuk hampir di setiap elemen pendidikan dan sistem di negeri ini,” lanjut Aji Dedi.

“Refleksi Zelfbestuur 1916 harusnya menjadi tonggak kesejarahan untuk kita terapkan lagi, dan Pancasila adalah format kebangsaan. Bukan Pancasila yang hanya sebagai alat politis belaka, namun sebagai identitas bersama, yang mampu menjadi perisai atas Neoliberalisme,” tambahnya.

Sudah saatnya kita yang harusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bung Hatta bahkan pernah berkata bahwa jika ruang ekonomi di negeri ini tidak diisi oleh pribumi, maka tunggu saatnya bangsa lain yang akan menguasai.

“Aksi melawan amnesia budaya untuk menegakkan anchorage (tonggak sejarah) adalah untuk mendorong Gerakan Indonesia Berkebudayaan,” tutup Aji.

Jam menunjukkan waktu dini hari, memasuki tanggal 17 Juni 2016 dan mereka yang hadir masih menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Itu tercermin dengan banyaknya lontaran ide tentang bagaimana sejarah Zelfbestuur yang telah tercetus satu abad silam, harusnya dapat menjadi kekuatan jati diri Indonesia saat ini.

Muhammad Arif dari Pemuda Muslimin Indonesia menutup Refleksi 1 Abad Zelfbestuur dengan doa bersama.

Bersama suarakan kebenaran, berdikari “Hijrah Untuk Negeri” 17 Juni 2016.[]

zelfbestuur-indonesia-tjokroaminoto

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish