Kenapa Indonesia Menjadi Kuda Tunggangan?

IMG-20170116-WA0003

Kenapa Indonesia Menjadi Kuda Tunggangan?

RumahPeneleh.or.id, Pamekasan – Ada hal menarik pada Seminar Kepemimpinan Mahasiswa dan Pelantikan BEM dan SEMA di Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Assalafiyah (STISA) Pamekasan, Senin (16/01). Acara bertema “Refleksi Gerakan Mahasiswa Menyongsong Dwi Dasawarsa Reformasi” tersebut juga diisi dengan Kuliah Kebangsaan.

Moderator acara membuka dengan menyampaikan kembali narasi singkat sejarah gerakan kepemudaan di negeri ini. Gerakan mahasiswa memiliki momentum penting saat berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 1908. Berpuluh tahun kemudian sejarah mencatat gerakan mahasiswa tahun 1998, yang belum pernah tersaingi sampai saat ini.

Dr. A. Dedi Mulawarman hadir sebagai pemateri pada Kuliah Kebangsaan. Dosen Universitas Brawijaya sekaligus Ketua Yayasan Rumah Peneleh tersebut sengaja diundang oleh STISA, sebagai salah satu figur yang aktif menggelorakan semangat kebangsaan hingga saat ini.

“Ketika mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru, mahasiswa hampir tidak ada persiapan, ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa dengan niatan yang luhur dan bersatunya elemen masyarakat, rezim tersebut dapat kita lawan,” ungkap Dedi.

Dedi yang juga penulis buku 2024 Hijrah Untuk Negeri itu juga menekankan bahwa mahasiswa harus punya standar berfikir terhadap perubahan yang tinggi, mahasiswa juga harus kritis terhadap fenomena negeri.

“Kenapa Indonesia menjadi kuda tunggangan? Indonesia di-drive oleh realitas, Indonesia dikendalikan oleh realitas, selalu dikendalikan oleh perkembangan dunia,” kata Dedi.

“Mahasiswa masuk ke dalam cara berfikir terstruktur atau antisipatif? Semua mahasiswa harus berfikir dinamis. 1945 seluruh pemuda bergerak cermat, cara berfikir ke depan, cara berfikir nilai, tauhidnya kuat, orientasi masa depan, itu harus kita tanamkan dalam benak setiap generasi muda khususnya mahasiswa,” tambahnya.

A. Dedi menutup Kuliah Kebangsaan dengan mengingatkan kepada mahasiswa agar tidak hanya sekedar berdemonstrasi, tetapi harus mempunyai landasan, yaitu dengan membaca buku. Sebelum melakukan aksi mahasiswa mesti berdiskusi, membangun diskursus agar dapat menemukan solusi.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Assalafiyah dan Yayasan Rumah Peneleh. Jumat 17 Februari 2017 jam 07.30 Yayasan Rumah Peneleh akan menggelar Bedah Buku “2024: Hijrah Untuk Negeri” di Aula Perpustakaan Umum Kota Malang.

Info agenda Rumah peneleh dapat menghubungi 089658416947 (Fauzi) atau 085655528189 (Amelia).[]

/ Berita / Tags:

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish