JANG OETAMA: Surabaya 30 September 2015

rumah-peneleh-hos-tjokroaminoto-kebudayaan-30-september-aji-dedi-mulawarman

JANG OETAMA: Surabaya 30 September 2015

rumah-peneleh-hos-tjokroaminoto-kebudayaan-30-september-aji-dedi-mulawarman

RumahPeneleh.or.id, Surabaya – Refleksi Kebudayaan yang diadakan Yayasan Rumah Peneleh kali ini diadakan di Rumah Alm. HOS Tjokroaminoto, di Peneleh VII/29-31 Surabaya, penyelenggara cukup terkejut dengan kehadiran puluhan pemuda pemudi yang hadir hingga rela berdesakan di ruangan yang sempit sampai ke depan gang.

Kegiatan dimulai tepat jam 9 malam ketika peserta sudah mulai memadati bagian dalam rumah mendiang Pak Tjokro itu. Eko Hadi Ratno, Ketua RT setempat memberi pengantar sekaligus kilas balik tentang amanat dari keluarga mendiang untuk menjaga rumah yang telah melahirkan banyak pemikiran kebangsaan ini. Berapa tahun kemarin kepedulian terhadap tokoh sejarah seperti Bung Karno maupun Pak Tjokro sangat kurang, tak heran jika kondisi rumah di Gang Peneleh ini dulu memprihatinkan, sampai berapa tahun kemarin Pemkot Surabaya memberi perhatian cukup dalam terhadap rumah cagar budaya itu. Beliau juga bangga masih banyak yang mau peduli dengan sejarah, terutama dengan menggali lagi sejarah tentang Pak Tjokro sebagai guru bangsa.

Sedikit menyinggung tentang peristiwa 30S/1965 bertahun lampau beliau beliau menggambarkan betapa ketakutan masyarakat waktu itu paska peristiwa 30S/1965 seperti wabah yang menjalar, pertikaian politik yang menurutnya berimbas pada masyarakat. Menurut Eko Hadi peristiwa itu jangan sampai membuat pemuda terpecah, saling membenci ataupun mencari pembenaran tentang bagaimana sejarah yang benar, beda pendapat boleh, tapi dengan pikiran terbuka, karena jika terus dipertentangkan siapa yang salah atau benar, beliau takut klimaks yang terjadi adalah chaos di negara ini. Beliau mengingatkan peserta yang hadir untuk mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Drs. Ismail Nachu dalam paparannya kemarin (30/09) menyatakan negeri ini tak butuh orang pintar, refleksi bersama seperti ini menurutnya adalah bentuk tirakat yang hadir laksana oase di tengah hiruk pikuk perang kebudayaan saat ini. Menurutnya Gerakan Kebudayaan seperti ini harus terus aktif, istiqomah, ikhlas, tak hanya memikirkan diri sendiri.

Mahasiswa tak selayaknya kuliah hanya sebatas belajar di kampus, tapi juga terus bergerak untuk bangsa ini. Anak negeri harus menapaktilasi jejak pahlawan, juga harus merenung dan memikirkan tentang kondisi bangsa.

Mengutip pesan Bung Karno JAS MERAH Jangan Sekali Melupakan Sejarah. Sejarah itu bukan untuk mengajak berpikir mundur tapi untuk berpikir progresif, karena generasi muda harus lebih hebat dari sejarah. Tentang pentingnya sejarah bahkan Al-Quran menjelaskan agar umat mengingat sejarah, tentunya sebagai acuan ke masa depan.

Tentang kondisi kebudayaan kita sekarang, beliau memaparkan peradaban yang kita alami sekarang tak pernah terpikirkan di masa lampau. Karena teknologi informasi teknologi telah membuat lompatan kuantum yang tak terdeskripsikan oleh orang terdahulu kita. Sehingga salah satu efek peradaban sekarang adalah krisis kebudayaan, salah satu contohnya termasuk gap orang tua dan anak.

Karena itu pemuda harus memiliki kesadaran eksistensial, Ismail Nachu yang juga Ketua ICMI Jawa Timur ini mengajak kita untuk tidak berpikir pendek, di tengah gagap kebudayaan seperti ini. Pemuda harus punya impian, dan jangan terseret arus materialisme, Indonesia butuh pemuda yang tak gamang menatap masa depan.

Krisis kebudayaan juga berakibat pada lunturnya nilai luhur agama dan ancaman keruntuhan ideologi negara ini. Beliau menyebutnya Entropi Kebudayaan, yaitu ketidaksenyawaan pada tataran konteks, masyarakat mulai lupa dengan identitas kebudayaannya sendiri. Ismail Nachu memberi ilustrasi kenapa bambu runcing bisa kalahkan Belanda pada zaman perang kemerdekaan dulu, adalah karena manusia-manusia di belakangnya tidak kerdil, pejuang pemuda waktu itu adalah manusia-manusia yang besar. Manusia kerdil yang hanya hidup untuk makan, hidup hanya sekedar hidup, sedangkan manusia besar berani bermimpi untuk gagasan menjadi bangsa yang besar, yang saat sebelum kemerdekaan adalah tantangan bersama bagi para pahlawan.

Dalam strategi kebudayaan, ada beberapa pilihan yang bisa kita lakukan. Pertama strategi kebudayaan dengan melawan arus; kedua adalah strategi kebudayaan dengan ikut arus; ketiga dengan mengikuti arus dengan kesadaran yang tersistemik; dan keempat adalah strategi kebudayaan dengan menciptakan arus.

Itu artinya pemuda punya banyak pilihan untuk tentukan nasib negeri ini, bukan sekedar membenarkan kebenaran yang ditempelkan, karena itu pemuda harus kritis, kebenaran bukan untuk kita tempelkan tapi untuk kita olah.

Menjawab pertanyaan salah satu peserta apakah ini resiko yang harus kita terima di masa seperti ini? seperti hedonisme dan penerimaan begitu saja difusi kebudayaan asing?

Ismail Nachu menjawab bahwa kita harus menerima semua ini sebagai pewaris bangsa, tugas bersama untuk menerima kelanjutan amanat kemerdekaan ini dengan kesadaran eksistensial, jangan lari atau menyalahkan keadaan. Hidup kita ini harus punya makna, kesadaran eksistensial akan membangkitkan kesadaran mempelajari sejarah untuk masa depan. Di sisi lain kita tak boleh apriori dengan kebudayaan asing seperti kebudayaan barat, karena unsur dari luar bisa kita sikapi sebagai rangsangan bagi kita untuk terus berfikir dan berkreasi dengan kekayaan lokal kita. Jadi kembali lagi, gerakan kebudayaan harus berorientasi ke depan dengan melihat sejarah sebagai pembelajaran.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi teknologi, terutama teknologi informasi sekarang ini?

Beliau menjawab bahwa teknologi adalah media bagi kita untuk membangun kesadaran, untuk bersikap kritis, bagaimanapun teknologi adalah infrastruktur kehidupan, sedangkan manusia adalah aktor kehidupan, artinya teknologi harus berdampingan dengan humanisasi, jadi tak meninggalkan fitrah manusiawi.

Dr. Aji Dedi Mulawarman sebagai Penulis Buku HOS Tjokrominoto menggambarkan beberapa pemikiran HOS Tjokroaminoto untuk merefleksikan Kebudayaan Nusantara itu sendiri. HOS Tjokroaminoto bukan tokoh pendikte, tapi tokoh pendorong yang didasari keikhlasan. Mengikhlaskan diri pada kekuatan besar Allah, bukannya kekuatan duniawi, menjadi konkrit dengan dorongan berpihak untuk kuasa rakyat.

Refleksi sejarah untuk menggali Kebudayaan Nusantara akan membawa kita pada pribadi yang berkarakter, tidak terjebak pada justifikasi antar kelompok tertentu, yang bahkan seringkali adalah hasil dari perang politik, sehingga satu kelompok dengan kelompok lain bisa saling mengadu dan mau saja diadu oleh pemikiran sempit.

Di Surabaya yang banyak lahirkan tokoh bangsa ini, HOS Tjokroaminoto dulu berjuang mengajak rakyat untuk berrevolusi secara mental agar berpikir dan bergerak melawan kolonialisme. Sedangkan Islam dan Sosialisme adalah puncak refleksi Pak Tjokro sebagai inspirasi bagi murid-muridnya menuju kemerdekaan di Nusantara. Al-Quran juga mengajak kita untuk berjuang, karena memperbaiki nasib sebagai individu yang lebih baik juga adalah bagian dari fitrah manusia. Diri kita adalah modal terbesar untuk hidup, bukan pada materialisme.

Di akhir acara, Kang Aji (Dr. Aji Dedi Mulawarman) menyerukan kepada pemuda pemudi untuk bergerak di daerahnya masing, bergerak sesuai bidangnya masing-masing untuk masyarakat yang lebih berkebudayaan. Refleksi Kebudayaan 30 September kemarin dimoderasi oleh Koordinator Rumah Peneleh Jawa Timur, Anggoro Cipto Ismoyo.[]

rumah-peneleh-hos-tjokroaminoto-kebudayaan-30-september-aji-dedi-mulawarman-surabaya

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish