JANG OETAMA di Malang Islamic Book Fair

ari-kamayanti-jang-oetama-hos-tjokroaminoto-cokroaminoto-malang-islamic-book-fair

JANG OETAMA di Malang Islamic Book Fair

ari-kamayanti-jang-oetama-hos-tjokroaminoto-cokroaminoto-malang-islamic-book-fair

RumahPeneleh.or.id, Malang – Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2015 kemarin, Yayasan Rumah Peneleh mengadakan Bedah Buku JANG OETAMA: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto, karya Aji Dedi Mulawarman. Kali ini kegiatan sedikit berbeda karena diadakan di panggung Malang Islamic Book Fair, Aula Skodam V Brawijaya, Malang.

Dalam bedah buku JANG OETAMA kemarin, Dr. Ari Kamayanti sebagai Dosen Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Malang hadir sebagai pembedah buku. Dr. Ari tak hanya piawai dalam profesi Dosen Ekonomi, tapi beliau sendiri juga gemar mempelajari sejarah, terutama sejarah HOS Tjokroaminoto dan Syarikat Islam.

Terlepas dari orientasi penulisan sejarah penulis, menurut Dr. Ari buku JANG OETAMA ini mengajak kita merenung tentang kemungkinan kesalahan interpretasi sejarah. Misalnya kenapa kita mengambil tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional, yaitu kelahiran Budi Utomo yang notabene adalah organisasi kedaerahan Jawa – Madura. Tak hanya menggugat dan mencoba meluruskan sejarah, namun juga secara rinci menceritakan aspek hidup Tjokroaminoto dari sisi pribadi beliau, politik dan cara beliau mendidik para pemimpin bangsa.

Dr. Ari juga menambahkan, “Menurut saya, salah satu mahkota buku ini adalah keberhasilan pemetaan politik Belanda, yaitu era politik tanam paksa 1817-1870 untuk mendapatkan puncak kekuasaan status quo; era politik liberal yang mengkritisi kebijakan tanam paksa untuk melibatkan lebih banyak pihak namun menempatkan Belanda tetap sebagai penguasa (1870-1900); dan akhirnya politik etis (1901-1942).”

Terlepas dari keindahan bahasa buku hingga enak dibaca ini, perlu diberikan kritik yang membangun, Dr. Ari merasa perlu ada buku seri berikutnya yang membahas pemikiran Tjokro dalam perspektif Nusantara. Tak heran karena saat berkunjung ke Palu untuk suatu acara, Dr. Ari menyempatkan menemui beberapa pegiat diskusi budaya, disebutkan bahwa Syarikat Islam sudah masuk hingga pedalaman Sulawesi jauh sebelum gerakan misionaris muncul. Bahkan ketua adat yang pernah memeluk Islam, menjadi pemeluk agama lain, lalu kembali Islam mampu memberikan bukti Keislaman sebagai “agama pertama” melalui kartu anggota Syarikat Islam.

“Menariknya Tjokroaminoto dikenal sebagai ‘penyembuh’ bukan politisi atau pemikir. Ini menandakan bahwa beliau adalah pribadi yang luar biasa, yang mampu memasuki suatu lingkungan dengan jalan menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungan.” tambah Dr. Ari.

Sebagai pungkasan, Dr. Ari menyatakan bahwa satu hal penting dari buku ini adalah semangat revitalisasi diri menjadi penerus pejuang. Berjuang bukan kewajiban, namun hak istimewa. Seandainya itu dipahami, mungkin lebih banyak dari kita yang akan menuntut hak itu.

Meskipun bukan pertama kali diadakan di Kota Malang, bedah buku JANG OETAMA tersebut masih diminati oleh pengunjung Malang Islamic Book Fair, maupun beberapa mahasiswa yang menyempatkan datang meskipun di luar hujan. Bedah buku kemarin dimoderatori oleh Irwan Baddu, Ketua Yayasan Rumah Peneleh Malang Raya.[]

/ Berita

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish