JANG OETAMA: Bedah Buku HOS Tjokroaminoto di Universitas Diponegoro Semarang

jang-oetama-hos-tjokroaminoto-fib-undip-sejarah-universitas-diponegoro-semarang-aji-dedi-mulawarman-prof-dr-yuliati

JANG OETAMA: Bedah Buku HOS Tjokroaminoto di Universitas Diponegoro Semarang

jang-oetama-hos-tjokroaminoto-fib-undip-sejarah-universitas-diponegoro-semarang-aji-dedi-mulawarman-prof-dr-yuliati

RumahPeneleh.or.id, Semarang – Yayasan Rumah Peneleh, Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro mengadakan Diskusi Bedah Buku JANG OETAMA: Jejak & Perjuangan HOS Tjokroaminoto karya Aji Dedi Mulawarman, Kamis kemarin (22/10).

Acara digelar di Ruang C 103 Kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Pleburan, Jalan Hayam Wuruk 4 Semarang. Acara yang dimulai pukul 19:00 WIB tersebut menghadirkan pembicara Aji Dedi Mulawarman (Penulis Buku), Prof. Dr. Dewi Yuliati MA. (Guru Besar Sejarah UNDIP), dimoderatori Rukardi (Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah) acara itu terbuka untuk umum dan gratis.

Bukan hanya mahasiswa-mahasiswi Jurusan Sejarah saja yang menghadiri diskusi tersebut, tapi juga beberapa masyarakat umum, aktivis dan pegiat sejarah. Menarik karena Semarang juga merupakan salah satu kota yang terekam dalam sejarah pergerakan nasional pra-kemerdekaan, khususnya pergerakan pecahan Sarekat Islam sendiri yang terkenal dengan sebutan Sarekat Islam (SI) Merah.

Di bawah Semaun dan Musso, Sarekat Islam di Semarang yang mengusung ideologi sosialis ala Rusia bergerak cepat dengan jargon-jargon “revolusi”, menghimpun massa dari kalangan buruh dan masyarakat kelas bawah. Pergerakan mereka dianggap merupakan reaksi terhadap Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto yang dinilai lamban dan semakin mesra dengan Volksraad. Sementara di lain pihak HOS Tjokroaminoto sudah menganggap perbedaan ideologi antara Sarekat Islam dan SI Semarang terlalu jauh, ideologi sosialis ala Rusia yang semakin mendekatkan SI Semarang dengan ideologi komunis benar-benar bertentangan dengan ideologi sosialis ala Islam yang diterapkan oleh HOS Tjokroaminoto.

Klimaksnya, Sarekat Islam di Semarang benar-benar pecah dengan Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto, di kemudian hari Sarekat Islam di Semarang terkenal dengan sebutan SI Merah. Dengan tetap meneriakkan “revolusi” dan sikap radikal terhadap Kolonial Belanda, sikap non-kooperatif itu memicu kegusaran kolonial, mereka menangkap satu-persatu pimpinan SI Merah karena ideologi pemerataan (sosialis) dianggap membahayakan pemerintah kolonial.[]

/ Berita / Tags: ,

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish