Generasi Muda Harus Melek Sejarah

WhatsApp Image 2018-07-06 at 10.02.03

Generasi Muda Harus Melek Sejarah

Oleh Nurul Aini, Aktivis Peneleh Regional Madura

Peristiwa-peristiwa lampau yang dialami oleh leluhur tampaknya telah hilang diingatan masyarakatnya. Laiknya sejarah, tidak boleh begitu saja terlepas dari peradaban modern. Upaya melek sejarah harus kembali dikembangkan.

Kamis (05/07), Rumah Peneleh Regional Madura mengadakan diskusi malam dengan tema Dhunging Trunojoyo atau mendongeng tentang Trunojoyo. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali spirit perjuangan Trunojoyo sebagai refleksi penggerak hijrah Madura. Tepatnya di taman kampus Universitas Trunojoyo Madura, berbagai aktivis dan mahasiswa hadir meramaikan. Diskusi berlangsung seru, hingga pukul 22.30 WIB.

Pemantik materi diskusi adalah Miftahul Achyar. Dia adalah demisioner gubernur fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Trunojoyo Madura sekaligus seorang penulis.

“Kegiatan ini untuk mengenang sekaligus menjaga marwah Pangeran Trunojoyo serta memperkenalkan kepada khalayak tentang perjuangan Pangeran Trunojoyo yang begitu heroik namun berakhir pilu karena rasa hormatnya kepada yang lebih tua, disalahgunakan menjadi sebuah pengkhianatan dari keluarganya sendiri. Yang Kedua, untuk menggugah kesadaran Masyarakat ataupun seluruh Aktivis Madura agar meneruskan nilai-nilai perjuangan mulia dari Pangeran Trunojoyo,” ujar Miftachul Achyar.

Ia memaparkan perang di masa itu, perang Trunojoyo yang berlangsung pada tahun 1677 melawan Belanda. Pangeran Trunojoyo sendiri yang lahir dan besar dari Kerajaan Mataram tidak mendapat dukungan dari Kesultanan. Namun, dukungan datang dari masyarakat. Antusiasme masyarakat mendukung Pangeran Trunojoyo menjadi senjata menakutkan dan menciutkan nyali kepemerintahan Belanda.

Kalimat “Mataram Raya!!! dipekikkan oleh Pangeran Trunojoyo untuk menyatukan seluruh Nusantara agar rakyat Nusantara turut melakukan perlawanan kepada Belanda. Dan dari pekikan itulah Trunojoyo menjadi orang kedua setelah Gajah Mada yang mempunyai sekaligus menjalankan visi untuk persatuan Nusantara, baik dalam konteks kesatuan teritorial ataupun rasa.

Kisah tersebut sangat singkat, sedangkan diskusi berjalan lebih panjang. Adapun pemantik materi memperoleh informasi dari sumber yang cukup kuat yaitu wawancara langsung dengan Raden Panji Abdul Hamid Mustari, dari Raden Panji Abdul Hamid mustari dari trah Cakraningrat Bangkalan. Juga refenresi dari buku berjudul Babad Tanah Jawi karya W. L. Olthof.

Bangkalan , 06 Juli 2018

/ Essay, Opini

Share the Post

About the Author

Comments (1)

  1. arya :

    saya tertarik dengan artilel ini, terlebih lagi pada alinea “Raden Panji Abdul Hamid Mustari, yang tidak lain adalah keturunan asli (silsilah laki-laki) dari Raden Prasena (Cakraningrat I) yang sekaligus pewaris Kesultanan Cakraningrat Bangkalan”, apakah ini benar sebagai pewaris kesultanan Bangkalan? lalu bagaimana catatan sejarah mulai dari masa majapahit sampai saat ini sehingga penulis menisbatkan Pewaris Kesultanan Bangkalan?
    apakah ada pewaris lainnya yg juga berhak sebagai pewaris Kesultanan Bangkalan?
    dan bagaimanakah garis silsilah Raden Panji Abdul Hamid Mustari, terimakasih pada admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish