Dari Kami untuk Anak-Anak Palu, Sigi, Donggala

IMG_20181031_070136_314

Dari Kami untuk Anak-Anak Palu, Sigi, Donggala

Oleh Alimir Rahman CB, Aktivis Peneleh Jakarta

Ini merupakan sebuah kisah perjalanan, perjalanan tentang sekolompok anak manusia yang berusaha memberikan sentuhan kasih dan sayang, untuk saudara-saudara di Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala). Pada 28 September 2018, gempa bumi mengguncang, tsunami menerjang, dan likuifaksi datang di Bumi Tadulako.

Rumah Peneleh menginisiasi “Sekolah Ceria” untuk penyintas gempa dan tsunami Pasigala. Rumah Peneleh memberikan kesempatan kepada kader-kadernya untuk berkontribusi dengan aksi nyata. Terbentuklah Tim Relawan Kloter III, dari berbagai regional yaitu Madura, Kediri, Malang, Palu, dan saya termasuk di dalamnya dari regional Jakarta. Relawan Kloter III berfokus pada program Sekolah Ceria dan dukungan psikosial atau Pschological First Aid (PFA).

Sabtu 20 Oktober 2018, tepat pagi hari kami tiba di Bandara Mutiara Sis Al Jufri. Pada beberapa bagian bangunan bandara rusak, sebagain lain sedang dalam proeses perbaikan, namun landasan terbang masih dapat beroperasi. Langit bandara teduh memayungi perjalanan kami dari terik panas, membuat suasana sejuk, yang menurut kabar cuaca palu sangat panas.

Hari pertama, kami langsung menuju ke sebuah tempat, Desa Lolu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Disini berdiri tenda-tenda pengungsian, dan tenda sekolah darurat. Anak-anak kehilangan fasilitas belajar, sekolah rusak, tapi semangat belajar mereka tidak rusak. Kamu masih bermalas-malasan belajar?

Para gurupun terlihat bersemangat menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada anak-anak yang dibagi kedalam tenda-tenda. Tenda terbatas, tenda pertama berisi kelas satu, tenda kedua berisi kelas dua dan tiga yang disekat menjadi dua ruangan, tenda ketiga berisi kelas empat dan lima yang disekat menjadi dua ruangan, dan satu tenda kecil untuk kelas enam.

Saya dan beberapa rekan mengisi kelas 4-6. Kami tidak menyempaikan pelajaran-pelajaran formal sebagaimana mestinya, yang kami lakukan adalah aktivitas-aktivitas yang dapat memunculkan rasa kebahagian pada anak-anak.

Pada dasarnya, anak-anak dalam proses pemulihan emosional akibat gempa dan tsunami yang mereka rasakan langsung. Perasaan emosional masih begitu dominan yang meraka rasakan, sehingga sangat tidak efektif untuk langsung melakukan pelajaran sekolah.

Pelajaran yang bisa disampaikan adalah, pelajaran yang sederhana-sederhana, yang dapat mengekspresikan perasaan mereka, mereduksi perasaan-perasaan cemas dan takut. Tentunya tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan, agar dakwahnya tersyiarkan.

Kami memilih beberapa kegiatan utama yang telah dilakukan, dimana setiap hari hanya dilakukan satu kegiatan utama dan beberapa aktivitas tambahan. Karena waktu sangat pendek, keadaan cukup riuh, dan terika. Maka pemilihan kegiatan ini menjadi penting, agar tujuan mereduksi rasa takut dan cemas tercapai.

Beberapa kegiatan yang kami lakukan adalah share the feeling. Kegiatan ini bisa dilakukan secara masal ataupun berkelompok kecil. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memahami kejadian yang sesungguhnya terjadi, menerima dengan lapang hati, mengikhlaskan, dan membuka harapan baru untuk masa depan. Teknis dari kegiatan ini adalah, kami berbagi tugas dan membentuk kedalam kelompok-kelompok kecil. Setiap anak kami berikan boneka tangan, sebagai media. Setiap anak bergiliran untuk mengungkapkan perasaan yang sedang mereka alami dengan boneka tangan, lalu anak-anak yang lain juga memberika semangat menanggapi dengan boneka tangan yang dimilikinya.

Kegiatan berikutnya adalah menggambar. Anak-anak diberi kertas gambar, lalu bebas untuk menggambar apa saja. Dalam pendekatan projective psychology, setiap goresan-goresan, bentuk gambar yang mereka torehkan di kertas gambar memiliki makna terentu. Sebagian besar anak-anak menggambar apa yang sedang mereka alami, yang mereka lihat, dan mereka rasakan. Beberapa bentuk gambarnya adalah, ambulan, puing-puing, pesawat, tenda-tenda. Untuk mengetahui lebih, harus dilakukan diagnose lebih dalam. Menurut pendapat saya, ini secara umum sudah jelas menggambarkan keadaan mereka. Setidaknya mereka sudah meluapkan yang mereka rasakan melalui goresan-goresan gambar tersebut.

Kegiatan berikutnya adalah bercerita. Anak-anak dibagi kedalam kelompok 4-5 orang, setiap kelompok diberi buku gambar yang tipis, mereka membacakan dan ada yang berperan sebagai tokoh sebagaimana jalannya cerita.
Kegiatan berikutnya adalah mewarnai. Disediakan beberapa bentuk-betuk gambar, anak-anak dibagi dalam kelompok kecil, berisi 5-7 orang. Setiap kelompok diberikan pensil warna. Mereka bebas mewarnai dengan warna yang mereka suka. Dalam pendekatan projective psychology, setiap warna-warna mewakili perasaan yang sedang dialaminya. Warna cerah, terang cenderung dengan kecerian keadaan hatinya, warna redup nan gelap cenderung dengan kemuraman keadaan hatinya. Pada hasil observasi, anak-anak lebih banyak memilih warna-warna cerah.

Kegiatan melipat. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat fokus dan perhatian anak-anak. Setiap anak-anak diberikan kertas origami, lalu dari kami memandu untuk melipat agar menjadi bentuk tertentu, katak, burung, dan shuriken.

/ Berita, Opini

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish