Cerpen: Cinta Paimin Painem

Cerpen: Cinta Paimin Painem

 

Oleh Sholeh UG

Nem……

Aku bukan Gibran yang pandai merangkai kata cinta menjadi cerita

Aku bukan si gila Shakespeare yang memaknai cinta sebagai birahi

Aku juga bukan Qays sang pengelana yang mencinta dengan mantra

Nem……

Aku tau, kau bukan Delilah yang licik, dungu dan tak mau mengalah

Kau bukan pula Layla yang manja dan haus puja

Apalagi Roro Mendut yang menjadikan ludahmu sebagai pelet

Nem…..

Cinta bagiku tanpa bisa dikata hanya dirasa

Cinta bagiku, berarti bila hari ini ada sepiring nasi dan segelas air untukmu

Cinta itu pelepah pohon pisah kering yang kupintal dan kujadikan kalung untukmu

Cinta bagiku, saat kurobek kausku yang kumal, lalu kuberi ludah, dan kupakai untuk membersihkan borok-borok di sekujur tubuhmu

Dan bau anyir borokmu kuhirup bagai bau parfum Armani

Akhhhh Nem, aku paling suka melihat tubuh sintalmu mandi telanjang di sungai belakang gubuk kita

Tapi dasar bajingan, pabrik-pabrik tempatku bekerja, membuang limbah beracun di sungai

Dan racun itu menempel di tubuhmu menjadi borok

Lalu dengan pongah mereka berkata “Kalian harus buat sanitasi yang tak mencemari”

Nem…..

Menurutku cinta kita begitu romantis

Betapa nikmat kita makan nasi aking berdua, sambil suap-suapan

Meski sayang, kenikmatan itu dirusak oleh seragam keangkuhan yang menggusur gubuk reyot kita

Menginjak-injak priuk yang selalu kau gunakan untuk menanak nasi

Priuk yang kuhadiahkan untukmu, sebagai barang hantaran pernikahan kita

Sungguh Nem….. aku tak ingin memaki mereka sebagai anjing

Meski mereka sudah menghancurkan semua kenangan indah kita

Karena bagiku, asal masih ada cinta di hatimu untukku, cukuplah itu

Akhhhhhh Nem……….

Bahkan manusia-manusia bejat dan serakah itu tak mau menyisakan sedikit saja kenangan cinta kita

Saat kulihat darah dan lubang menganga di dadamu

Kebencianku memuncak, amarahku menggelegak

Saat mereka mengatakan, “maaf, itu hanya peluru nyasar”

Lalu keesokan harinya, saat kugali lubang kuburmu dengan tanganku

Mereka datang dan berkata, “mengapa bapak melawan saat akan ditangkap petugas?”

Lalu mereka memborgol tanganku

Nem….. kalau kau dan aku tak bisa menyatu di dunia, biarlah di akhirat kelak kita bersatu

Aku dengar, di akhirat tak ada pabrik produsen limbah

Di surga tak ada polisi dan tentara

/ Essay, Opini

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish