Belajar dari Adik-adik Kita di Palu

quote20181027173937

Belajar dari Adik-adik Kita di Palu

 

Uyun, kelas 4 SD, adalah penyintas gempa dan likuifaksi di daerah Petobo, Kab. Sigi.

Dia melihat langsung bencana yang membuatnya kehilangan rumah, lingkungan sosial, dan dua sosok terpenting dalam hidupnya, ayah dan adiknya, dua dari ribuan nyawa yang mungkin dia kenal, dan belum tau bagimana nasibnya, selain tau bahwa mereka sedang tertimbun tumpukan tanah dan puing. Saat ini Uyun tinggal di posko 5 Desa Lolu, Kab. Sigi, bersama ibu dan ratusan penyintas lainnya.

Meski kehilangan kepemilikan yang tak ternilai harganya itu, dia nampak kuat sekali. Selama kegiatan Sekolah Ceria, yang diadakan Relawan Aktivis Peneleh, dia adalah salah satu yang selalu aktif dan inisiatif mengikuti kegiatan. Saat menggambar, dia fokus, saat bermain, dia asik, saat membuat burung dari kertas origami, dia bahkan bisa mengajari teman dekatnya.

Dari senyumnya, kuatnya dia tergambar jelas. Jelasnya dia menuturkan saat kejadian yang tak terlupakan itu terjadi,

memunculkan kesimpulan kalau dia sudah mampu menerima apa yang terjadi. Sesuatu yang sulit dilakukan kebanyakan orang.

Uyun hanya satu dari 600 an siswa di posko 5 ini. Kisahnya hanya satu dari ratusan yang tak berani relawan kuak langsung dari penuturan mereka.

Relawan merasa segan untuk bertanya “apa yang adik hadapi saat kejadian?” Padahal benar-benar ingin tahu.

Menurut kami, biarlah kisah-kisah itu hanya ada dan diakui oleh mereka, tanpa kami berusaha menghapus ataupun mengungkit-ungkit kembali. Hanya ketika mereka bercerita saja, kami siap mendengar & menyimaknya.

Tapi, kadang kami sedih. Adik-adik penyintas ini sering menjadikan kondisi mereka sebagai bahan canda, ledekan. Di hari terkahir kami mengajar kemarin, Uyun diledek temannya dengan menyebutnya anak yatim piatu, di sela-sela kegiatan. Saya hanya berani menyimak tatapan mata Uyun dan mimik wajahnya.

Heran, ledekan yang pasti mengingatkan dia pada saat terjadinya petaka, tak membuat raut muka manisnya menjadi berkabung.

Matanya tak berkaca-kaca. Uyun nampak jengkel ke temannya, lalu melaporkan temannya itu ke gurunya, “bu, dia bilang saya yatim piatu!” Sambil memukul teman laki-laki di dekatnya.

Gurunya lalu memanggil teman Uyun, dan merangkulnya, “Kamu tau dik artinya yatim piatu?” Tanya Bu Siti, salah satu guru yang benar-benar layak disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”. “Tidak, bu,” balas adik itu dengan logat khas Palu.

Kemudian Bu Siti menjelaskan, “Yatim piatu itu artinya gak punya bapak dan ibu…” adik itu hanya bisa meringis & malu.

Melihat percakapan itu, Uyun menyimak dan lalu melempar juluran lidah sambil meledek ke temannya.

/ Essay, Opini

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish