Bedah Buku 2024 Hijrah Untuk Negeri di Fakultas Filsafat UGM

filsafat-ugm-diskusi-hijrah-negeri-keluarga-muslim-filsafat-ugm-yogyakarta- (6)

Bedah Buku 2024 Hijrah Untuk Negeri di Fakultas Filsafat UGM

RumahPeneleh.or.id, Yogyakarta – Rumah Peneleh merupakan yayasan yang bergerak di lingkup sosial dan budaya. Paneleh diambil dari salah satu jalan di Surabaya, yang merupakan rumah HOS Tjokroaminoto dan merupakan salah satu simbol semangat kepemudaan.

Keluarga Muslim Filsafat (KMF) Universitas Gadjah Mada adalah lembaga dakwah Fakultas Filsafat di lingkungan UGM yang secara aktif mengadakan kegiatan Keislaman.

Bertempat di Auditorium Notonegoro Fakultas Filsafat UGM, kedua institusi ini menggelar Bedah Buku 2024: Hijrah untuk Negeri, Sabtu 18 Februari 2017. Dengan menghadirkan Dr. A. Dedi Mulawarman sebagai penulis buku dan Dr. Rizal Muntasyir, M. Hum. sebagai dosen Filsafat UGM.

Acara dibuka oleh MC Akbar Dwi Rohadi dan Valintine Virginia dilanjutkan Pembacaan tartil Al-Qur’an oleh Susi Susanti. Riki Kurniawan, seorang aktivis KMF didaulat untuk menjadi moderator acara ini.

A. Dedi mengemukakan alasan kenapa 2024 karena Dedi melihat ada suatu kesinambungan. Ada semacam progress geopolitik yang luar biasa yang ujungnya akan berdampak di 2024.

“Negeri ini adalah negeri yang ambigu, yang berbasis kerakyatan dan Pancasila, tapi di satu sisi seluruh UU sampai penerapan teknis kita mengagendakan yang lain, yaitu agenda liberal. Hasilnya kalau kita lihat di Jakarta, ribut luar biasa. Dan satu alienansinya adalah global, yang satu nasionalis yang satu pro-agamis,” papar Dedi.

Dedi melanjutkan, “Ada situasi ambigu, ini demokrasi yang liberal. Bergantung siapa yang berkuasa, siapa yang punya modal itu yang jadi penentu. Padahal yang namanya kerakyatan tidak seperti itu.”

“Padahal ketika kita bertolak pada sejarah, ada keberpihkan pada agama masing-masing. Apakah memang kekuatan besar berdampak pada cara kita memandang realitas? Ini penting bagi diskursus bagi orang-orang teoritis dan filosofis,” ujarnya.

Sementara itu Dr. Rizal Muntasyir mengungkapkan realitas masyarakat marginal, salah satunya transportasi cukup menyedihkan bagi kaum bawah meskipun sudah terasa nyaman, namun tetap saja tidak lagi bisa menyediakan ruang ekonomi bagi masyarakat bawah.

Dalam mengkritisi buku 2024 Hijrah untuk negeri, Rizal mengungkap konstruksi peradaban menuju 2024, di mana konsep-konsep liberalisme bisa direduksi.

Rizal juga setuju bahwa ekonomi Indonesia sudah terkontaminasi dengan teori-teori liberal. Posisi-posisi perekonomian dan Islam sering dianggap oposisi biner, padahal itu bisa dijadikan strategi.

“Harus ada kesadaran dan mentalitas tentang Islam dan konsep liberalisme, jangan mudah tergiur dengan konsep-konsep ilmiah, yang selalu kita percaya bahwa teori itu selalu benar. Al-Qur’an itu bukan kita ilmiah, namun sebenarnya bermaksud sebagai kesadaran psikologis untuk memberikan teori-teori ilmiah,” papar Rizal.

Diskusi yang berlangsung dari pagi pukul 8 hingga pukul 12 siang ini juga mengundang banyak peserta yang hadir untuk bertanya kepada 2 pemateri tersebut.

Ketua Keluarga Muslim Filsafat yang diwakilkan oleh Ruli Yoga mengungkapkan terimakasih kepada Rumah Peneleh atas kerjasamanya dalam kegiatan bedah buku ini. Diskusi ini juga terselenggara atas kerjasama yang luar biasa dari Aktivis Peneleh Angkatan 2, Alan, Akbar dan Thio.[]

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *