Aktivis Peneleh Lombok Adakan Bedah Buku Jang Oetama

WhatsApp Image 2020-03-14 at 17.40.09

Aktivis Peneleh Lombok Adakan Bedah Buku Jang Oetama

rumahpeneleh.or.id, Mataram- Jumat (14/03/2020), Aktivis Peneleh Lombok bekerjasama dengan UKKI Tasammuh Unram & Dema Fak. Syariah UIN Mataram melangsungkan acara pelantikan Pengurus Aktivis Peneleh Regional Lombok & bedah buku Jang Oetama: Jejak & Perjuangan HOS Tjokroaminoto.

Acara berlangsung di gedung Fakultas Hukum Universitas Negeri Mataram. Hadir sebagai pembicara bapak Dr. Aji Dedi Mulawarman (penulis buku sekaligus Ketua Yayasan Rumah Peneleh) & bapak Prof. Dr. Gatot Dwi (guru besar Fakultas Hukum universitas negeri Mataram).

Acara dibuka langsung oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan & Alumni FH Unram. Dilanjut dengan sesi pelantikan & bedah buku.

Sebagai catatan bedah buku, Pak Tjokro merupakan pribadi yang cerdas, loyal & sederhana, dengan modal inilah beliau mampu menjadikan SI sebagai organisasi yang memiliki masa terbanyak saat itu.

“Pada saat itu (tahun 1916-an) belum ada organisasi yang bisa menjaring anggota sampai 1 jt, namun ketika pak Tjokro masuk dalam SI, SI menjelma menjadi organisasi besar dengan kekuatan masa mencapai 4 juta orang bahkan lebih,” Jelas Pak Aji

“Saat dunia riuh & ricuh akan muncul Heru Tjokro (sebagaimana kepercayaan orang Jawa) yang akan membebaskan umat manusia sebagaimana pak Tjokro. Seperti realitas saat ini, dunia sedang gaduh, apakah akan muncul Heru Tjokro baru? Tergantung kita bisa mengkonstruksi realitas atau sebaliknya dikonstruksi realitas,” lanjut beliau.

Prof. Dr. Gatot Dwi dalam pembukaan materinya menyampaikan bahwa Pak Tjokro adalah sosok yang tidak pernah meninggalkan nilai-nilai Islam dalam tiap langkahnya, “Hal yang yang membuat saya takjub ialah, Pak Tjokro berasal dari keluarga priayi, namun nilai-nilai islam beliau sangat kental, menjadi pertanyaan besar bagaimana proses penanaman nilai-nilai Islam dalam diri pak Tjokro,”¬†lanjutnya.

HOS. Tjokroaminoto mampu mengkonstruksi & menciptakan Tjokro-Tjokro baru (Soekarno, Kartosoewirjo, Buya Hamkan, Alimin, Musso dll), ini karena beliau mampu mengkonstruksi realitas, “Pak Tjokro mampu mengkonstruksi realitas sehingga muncul pemimpin baru dari rahim beliau (murid beliau di gang Peneleh Surabaya) beliau tidak menciptakan buih-buih namun ombak penggulung lautan,” jelas Prof. Gatot.

Materi berlangsung selama dua jam, dilanjutkan dengan diskusi dengan 6 penanya dan diakhiri dengan sesi photo bersama.

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
en_USEnglish